Jakarta, Liputan.co.id – Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Hafisz Tohir menyayangkan pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) jauh di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,1 persen.
Terlebih menurut Hafisz, penyebab penurunan tersebut bersumber dari sektor industri berbasis perkapalan, kelautan dan industri alat-alat berat yang semestinya jadi handalan Kepri.
“Sangat disayangkan, Provinsi Kepri sebagai daerah penggerak ekonomi nasional (prime mover economic) nasional justru mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi yang jauh di bawah rata-rata nasional,” kata Hafisz, dalam rilisnya, Jumat (27/10/2017).
Kondisi tersebut ujar politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu harus segera diperbaiki karena Kepri adalah kawasan penyangga terluar Indonesia terhadap Singapura, Malaysia dan China.
Salah satu penyebabnya menurut dia, karena tidak ada korelasi antara APBN dengan APBD Provinsi Kepri dan Kota Batam. Mestinya kebijakan ekonomi daerah yang bersumber pada kebijakan APBD bersinergi dengan yang sudah dicanangkan di APBN.
“Pemerintah provinsi dengan Pemkab dan Pemko di Kepri seharusnya mampu mensinergikan antara pembangunan regional terhadap kebijakan pembangunan jangka menengah yang telah dicanangkan oleh Pemerintah. Penguatan basis industri dan produksi dalam negeri seharusnya bisa ditumbuhkembangkan di Kota Batam,” sarannya.
Terkait dengan fakta tersebut, Komisi XI DPR akan menindaklanjutinya ke Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. “Ini akan kami pertanyakan, bagaimana Otorita Batam yang sudah didukung oleh zona ekonomi khusus tetapi tidak mampu melampaui daerah-daerah lain dalam hal pertumbuhan ekonominya,” tanya dia.







Komentar