DPR: Indonesia-Saudi Jangkar Masa Depan Kekuatan Negara Baru

Jakarta, Liputan.co.id – Melengkapi agenda kunjungan kerjanya di Riyadh, Saudi Arabia, Delegasi Parlemen yang dipimpin Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah menggelar pertemuan dan berdialog dengan masyarakat Indonesia yang berada di Saudi Arabia.

Didampingi Duta Besar Indonesia untuk Riyadh, Agus Maftuh Abegebril, selaku tuan rumah, delegasi DPR RI menggelar pertemuan di Wisma KBRI Riyadh, Rabu (20/12/2017).

Kepada masyarakat Indonesia di Riyadh, Fahri mengatakan, setiap kali bertemu WNI, dia selalu ingin memberikan atau membuat catatan optimistis kepada bangsa Indonesia. Dia menyampaikan bahwa apa yang diputuskan secara nasional, mengambil jalan diplomasi melalui transisi demokrasi.

“Memang tidak bisa dipungkiri, alam setiap mengampil keputusan, pastinya melalui pergolakan. Tapi tentunya, pergolakan yang positif atau keputusan yang benar yang tidak boleh disesali,” ujarnya.

Sebab, lanjut Wakil Ketua DPR RI Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Koorkesra) itu, dapat dibayangkan kalau dulu bangsa Indonesia tidak mengambil jalan itu, bisa lain ceritanya. Indonesia bisa mengalami kesulitan beradaptasi dengan dunia ini.

“Yang cukup mendebarkan, karena negara kita terlalu beragam, kalau negara kita dengan Saudi ini, sulit dibandingkan. Negara kita itu kepualauan, Timur Tengah ini kontinen, bahasanya sama, agamanya sama, dan kitabnya sama, saya sering mengatakan ada friksi yang tidak terjembatani, sehingga muncul negara-negara gagal,” katanya.

Bahkan sekarang ini, menurut Fahri negara teluk sedang bergoncang dan masyarakat Indonesia perlu waspada terhadap kelompok-kelompok di dunia internasional ini yang punya agenda tidak positif bagi persatuan.

“Makanya saya bersyukur, ada Dubes kita pak Maftuh, yang bisa membantu negara kita di Arab ini untuk mewaspadai agenda-agenda tersembunyi yang ingin menghancurkan kawasan ini, sebagaimana dihancurkannya beberapa kawasan di negara-negara pasca Arab Sprint,” ucapnya.

Hal ini, tegas Fahri perlu dijaga bersama, karena Indonesia dan Saudi ini termasuk Jangkar Masa Depan dari kekuatan-kekuatan negara-negara baru yang tumbuh atau lahir banyak karena inisiatif dari para founding father Indonesia.

“Indonesia merdeka tahun 1945, tahun 1955 Bung Karno sudah membuat Konferensi Asia Afrika dan banyak yang merdeka pasca konferensi Asia Afrika itu adalah negara-negara Islam, yang sekarang ini banyak dari keadaan mereka yang belum stabil,” jelasnya.

Karenanya, imbuh politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, tugas para penerus sebagai pelanjut dari gerakan Bung Karno, untuk melihat kemerdekaan ada sebagaimana yang disebutkan dalam Pembukaan UUD 1945, bahwa sesungguhnya kemerdekaan hak segala bangsa. “Inilah tugas berat kita sekarang ini, menjaga dan memelihara perdamaian dan persatuan, yang telah dirintis oleh para founding father kita,” pungkasnya.

Ikut Delegasi DPR RI antara lain Henry Yosodiningrat (F-PDIP), Muhammad Syafrudin (F-PAN), Nurhasan Zaidi (F-PKS) dan Teuku Taufiqulhadi (F-NasDem).

Komentar