Pak Dirman: Buat Apa Memimpin, Kalau Tidak Bisa Melakukan Perubahan Drastis

KILASJATENG.COM, BANYUMAS – Pemimpin itu harus mampu membuat perubahan drastis. Karena pemimpin memiliki segala yang dibutuhkan untuk melakukan itu.

“Kalau pemimpin tidak bisa melakukan perubahan, buat apa memimpin,” tegas calon gubernur Jateng, Sudirman Said saat bersilaturahim dengan pimpinan dan pengurus partai pengusung di Rawalo, Banyumas, Jumat (23/2).

Hadir dalam kesempatan itu pimpinan dan pengurus Partai Gerindra, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Banyumas.

Sudirman Said atau yang akrab disapa Pak Dirman tersebut menyampaikan keyakinannya menanggapi pesimisme sejumlah pihak terhadap janji kerjanya untuk memangkas kemiskinan, dari 12,23 persen saat ini menjadi enam persen dalam jangka lima tahun masa pemerintahannya jika terpilih kelak.

Pak Dirman menyakini bisa menunaikan janji kerjanya itu, meskipun ada yang menganggapnya mustahil. Pasalnya dirinya sudah sering menjadi bagian dari perubahan yang mustahil.

Saat di Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias, misalnya, bersama Kuntoro Mangkusubroto berhasil menyelesaikan pembangunan lebih dari 125 ribu rumah penduduk dalam jangka waktu empat tahun.

“Kita berhasil membangun rumah lebih banyak dari rumah yang lenyap akibat tsunami. Membangun Puskesmas lebih banyak dari yang ada, dan memperbaiki jalan-jalan menjadi lebih baik dari sebelum tsunami,” terangnya.

Kemudian saat menjadi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam kabinet Presiden Joko Widodo (2014 – 2016) ia berhasil membuabarkan Petral, perusahaan yang menjadi perantara impor BBM.

Dengan pembubaran Petral negara bisa menghemat Rp 12 triliun per tahun.

“Sebelumnya pembubaran Petral dianggap hal yang mustahil. Karena ini merupakan mafia migas yang dibeking orang-orang kuat. Tapi nyatanya saat menjadi Menteri ESDM, saya bisa membubarkannya,” tegasnya.

Menurut Pak Dirman, perubahan itu tergantung pada pemimpinnya. Jika pemimpinnya bersih, tidak memiliki kepentingan pribadi di belakang, maka perubahan dengan mudah bisa dilakukan, jelasnya.

Tapi kalau pemimpinnya memiliki kepentingan pribadi dan kelompok, maka perubahan dan perbaikan menjadi musykil, sulit dilaksanakan.

Karenanya bersama pasangannya Ida Fuaziyah, Pria kelahiran Brebes tersebut sudah bertekad menciptakan pemerintahan yang bersih, yang bebas korupsi.

Segala janji kerjanya, termasuk membuka lima juta lapangan kerja, dan mencetak satu juta wirausahawan perempuan, hanya bisa dilakukan jika ada pemerintahan yang bersih.

“Kami ingin membuat Jateng mukti tanpa korupsi,” ujar alumni Sekolah Tinggi Akutansi Negara itu. (Art)

Komentar