Jakarta, liputan.co.id – Aksi teror bom yang terjadi di rumah kontrakan di Kelurahan Pogar, Bangil, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (5/7) melukai satu orang anak. Meski aksi teror tersebut tak berhasil merenggut nyawa orang, tetapi mampu membuat kondisi keamanan jelang pelaksanaan Asian Games yang akan berlangsung di Jakarta dan Palembang sedikit terganggu.
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menyatakan, pelaku peledakan bom di rumah kontrakan itu berhasil melarikan diri dengan membawa ransel hitam yang diduga berisi alat peledak. Olehnya itu, polisi diminta untuk segera menangkap pelaku pengeboman sebelum dia (pelaku-red) melakukan teror-teror berikutnya di tempat lain, dan akan terus menggangu keamanan bangsa.
“Polisi harus bisa segera menangkap pelaku bom Pasuruan, karena dikhawatirkan yang bersangkutan akan menebar aksi teror baru yang bisa mengganggu pelaksanaan Asian Games di Indonesia yang tinggal beberapa hari lagi. Informasi yang diperoleh IPW mengungkapkan, pelaku bom Pasuruan berhasil melarikan diri dengan membawa ransel hitam yang diduga berisi bahan peledak,” kata Neta, lewat pesan tertulisnya, Jumat (6/7).
Pelaku yang diketahui bernama Abdulloh itu diketahui melarikan diri menggunakan angkutan umum (Angkot) menuju arah Sidoarjo atau Mojokerto, yang sebelumnya pelaku pengeboman menitipkan sepeda motornya di Stasiun Kereta Api Pasuruan untuk membuat kamuflase seolah dirinya kabur menggunakan Kereta Api. Namun, dari kesaksian saksi mata, pelaku melarikan diri menggunakan Angkot.
“Pelaku kabur dengan menggunakan sepeda motor. Belakangan diketahui pelaku meninggalkan sepeda motornya di tempat penitipan sepeda motor di Stasiun Pasuruan. Pelaku membuat kamuflase seolah olah dia kabur dengan menggunakan kereta api, padahal saksi mata melihat pelaku kabur dengan angkot ke arah Sidoarjo atau Mojokerto. Pelaku mengenakan jaket biru muda dan bercelana panjang abu-abu, serta mengenakan sendal jepit kulit. Pelaku juga menggunakan kupluk putih dan syal biru. Dari tempat penitipan sepeda motor pelaku berjalan kaki menuju arah barat ke jalanan besar untuk mencari angkot. Diduga pelaku menuju Sidoarjo atau Mojokerto,” beber Neta S. Pane.
Dikatakannya, dalam menjalankan aksi teror ini, pelaku sengaja menggunakan dua identitas (Kartu Tanda Penduduk) yang dikeluarkan di dua tempat yang berbeda, yakni di Kabupaten Pandeglang, Banten atas nama Anwardi dan satunya di Kabupaten Pidie Aceh dengan nama Abdullah. Dua KTP ini juga memiliki nomor induk kependudukan (NIK) yang berbeda pula, tetapi kedua KTP ini memiliki foto yang sama dan diyakini adalah warga Aceh dan bagian dari jaringan ISIS yang juga bekas Anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM).
“Dari data yang diperoleh IPW, pelaku memiliki dua KTP. Pertama KTP keluaran Kabupaten Pandeglang Banten atas nama Anwardi kelahiran Jakarta 12 Juni 1966, dengan NIK 31009765443360003 dan beralamat Karang Tanjung Serang. KTP kedua atas nama Abdullah yang lahir di Lambideng Aceh 16 Februari 1975. KTP di keluarga Kabupaten Pidie Aceh dengan NIK 1107181602750001 dan alamat Dayah Lampoh Awe, Simpang Tiga. Foto di KTP sama sehingga patut diduga pelaku telah melakukan pemalsuan identitas. Padahal sesungguhnya pelaku bernama Abdulloh kelahiran Aceh Meulaboh. Dia merupakan anggota ISIS eks GAM,” jelasnya.(rth/liputan)







Komentar