Meleset dari Asumsi Makro, APBN 2018 Dinilai Kurang Kredibel

Jakarta, liputan.co.id – Anggota Komisi XI DPR RI Refrizal mempertanyakan keputusan pemerintah yang tidak akan mengajukan APBN Perubahan 2018. Sebab menurut Refrizal, banyak asumsi makro di APBN 2018 meleset.

“Kondisi ekonomi global sedang tidak stabil, kita butuh APBN yang kredibel. Asumsi pada APBN 2018 banyak yang meleset seperti nilai tukar rupiah dan harga ICP,” ujar Refrizal, lewat rilisnya Kamis (12/7).

Sebagai contoh kata Refrizal, pada asumsi makro APBN 2018 ditetapkan nilai tukar dollar sebesar Rp13.400 tetapi saat ini dollar diangka Rp14.300. Perubahan harga dollar yang sangat signifikan tentu berpengaruh terhadap banyak hal dalam postur APBN, seperti makin besarnya jumlah hutang (bunga dan pokok) yang harus dibayar.

Selain itu lanjut wakil rakyat dari daerah pemilihan Sumatera Barat II itu, asumsi harga minyak mentah per barel pada APBN 2018 di angka 48 dollar per barel sedangkan harga pada Mei kemarin diangka 68-78 dollar per barel.

Harga minyak mentah yang semakin tinggi menurutnya, akan berpengaruh terhadap beban subsidi energi. Bila tidak disesuaikan tentu akan sulit direalisasikan.

Politikus PKS itu mengatakan bahwa pengajuan APBN ataupun APBN-P adalah mekanisme yang diatur oleh undang-undang. Bukan suatu prestasi mengajukan atau tidak mengajukan APBN-P.

“Ada framing seolah-olah tidak mengajukan APBN-P adalah sebuah prestasi, padahal itu adalah hal yang biasa saja. Sesuatu yang wajar anggaran belanja direvisi, pemerintah yang bersikeras untuk tidak mengajukan APBNP 2018 akan kesulitan sendiri untuk memenuhi target-targetnya nanti. Apalagi sangat mungkin seiring berjalannya waktu, terjadi efisiensi, pengalihan budget dan pemprioritasan program dalam pengelolaan keuangan Kementerian atau lembaga negara lainnya,” jelas Refrizal.

Sementara itu, alasan pemerintah tidak mengajukan APBN Perubahan pada APBN 2018 disebabkan kinerja APBN di Semester I 2018 yang sudah dianggap baik.

Komentar