Jakarta, liputan.co.id – Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon kembali mengingatkan kembali sejarah kelam krisis moneter melanda Indonesia yang dipicu oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Agar sejarah kelam itu tidak lagi kembali, Fadli meminta keseriusan pemerintah menyikapi menguatnya nilai mata uang dolar AS terhadap rupiah.
Menurut Wakil Ketua Bidang Korpolkam ini, pemerintah sama sekali tidak melakukan upaya intervensi terhadap menguatnya nilai dolar AS untuk membuat langkah-langkah strategis sehingga nilai tukar rupiah kembali kondusif.
“Pemerintah harus berbuat sesuatu. Kelihatan dari langkah-langkah yang ada, tidak terlihat intervensi kebijakan yang bisa paling tidak menahan laju depresiasi ini. Ini yang menurut saya bahwa pemerintah harusnya serius,” kata Fadli, di Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (31/8/2018).
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra ini bahkan menyebut bahwa alasan perang dagang global yang disebut pemerintah untuk menenangkan suasana publik merupakan alasan klasik. Sedangkan ekonomi negara-negara tetangga tetap tumbuh walau menghadapi perang dagang tersebut.
“Alasan klasik saja itu. Semua negara juga kena dampak itu kok. Tetapi India bisa naik 7 persen, kenapa Filipina bisa di atas 6,5 persen. Mereka terkena dampak juga. Turki bahkan mengalami perang dagang yang hebat, tetapi ia punya strategi untuk meng-counternya. Jadi, getting intervention rights. Kalau kita ini tidak jelas intervention apa?,” tegas Fadli.
Anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Barat V ini berharap ada keseriusan dari pemerintah untuk menghadapi fenomena ini. Apalagi dengan adanya kegiatan impor. Menurutnya, kebijakan tersebut sangat membahayakan karena sama sekali tidak pro terhadap para petani dan rakyat kecil.
“Terlebih fenomena ini diselingi juga dengan impor. Di gudang itu sudah banyak beras kita. Kebijakan ini hanya semakin menyusahkan rakyat kecil saja. Di tengah petani akan panen, pemerintah masih mau impor lagi. Saya kira sangat membahayakan tentunya bukan saja terhadap kedaulatan pangan, tetapi juga terhadap kurs kita yang semakin melemah,” pungkasnya.







Komentar