Jakarta, liputan.co.id – Anggota Komisi Keuangan DPR RI Refrizal memaklumi terjadi pengurangan jumlah devisa negara akibat mengintervensi pasar untuk menahan merosotnya kurs Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD).
“Bank Indonesia akui telah mengintervensi pasar untuk mengamankan nilai tukar Rupiah, sehingga terjadi penuranan devisa dari USD134 miliar menjadi USD 118 miliar,” kata Refrizal, Kamis (6/9).
Kalau pasar tidak diintervensi lanjut politikus Partai Keadilan Sejahtera ini, pejabat BI bilang akan lompat-lompat nilai tukar Rupiah ini.
Meski demikian, wakil rakyat dari daerah pemilihan Sumbar II tetap mengingat BI agar semua tindakan mengintervensi pasar harus terukur.
“Sudah dipakai devisa negara sebanyak USD 16 miliar, namun belum membuat Rupiah menjauh dari posisi mendekat ke Rp15.000 per USD,” kata anggota Komisi XI DPR itu
Oleh karena itu, mantan anggota Komisi VI DPR ini menyarankan BI untuk mengawasi aliran devisa negara dalam bentuk USD itu. “Devisa negara dipakai untuk mengintervensi pasar. Sementara pasar tak membaik yang ditandai dengan Rupiah tak kunjung menguat,” ujarnya.
Refrizal curiga ada yang menyedot devisa negara untuk memperoleh keuntungan. “Ini seperti ada orang yang mencari keuntungan dalam kesulitan kita, komprador namanya. Kalau tertangkap manusia yang kayak gini bagusnya dihukum gantung saja, ini merusak kita,” pungkasnya.







Komentar