Rupiah Melemah, DPR Khawatir

Jakarta, liputan.co.id – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang mendekati angka Rp15.000, sudah sangat memprihatinkan karena berdampak pada impor Indonesia. Sebab menurut anggota Komisi V DPR RI Bambang Haryo Soekartono, banyak komoditas pangan didatangkan dari luar negeri seperti kedelai, jagung, gula, hingga susu.

“Kalau pemerintah mengatakan kondisi ini tidak perlu dikhawatirkan, kami menilai sudah sangat memprihatinkan,” kata Bambang, di sela-sela Rapat Paripurna, di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (4/9).

Bambang menyatakan bahwa pelemahan nilai mata uang terhadap dolar AS juga terjadi di negara-negara lain, tapi di Indonesia yang terparah.

Dibandingkannya, pada tahun 2012, kurs dolar AS Rp9.500, tetapi pada tahun 2018 kurs dolar AS mencapai Rp14.852. Sementara untuk dong mata uang Vietnam, kurs mata uangnya terhadap dolar AS pada tahun 2012 sebesar 20.835, tahun 2018 ini menjadi 23.306 per dolar AS.

Sementara baht Thailand lanjutnya, dari 31 menjadi 32 per dolar AS, dan riel Kamboja dari 4.067, menjadi 4.088 per dolar AS.

“Memang terjadi penurunan, tetapi tidak sedrastis yang terjadi di Indonesia. Sudah sangat rawan dan membahayakan, karena hampir-hampir semua komoditas kita menggunakan kurs dolar,” tegas politikus Partai Gerindra itu.

Karena itu lanjut Bambang, fenomena ekonomi ini tidak bisa dibiarkan. Ia meminta Menteri Keuangan menyampaikan kepada Presiden, bahwa kondisi ini sudah memprihatinkan dan sudah memberatkan kehidupan masyarakat.

“Tolong disampaikan kepada kementerian terkait agar impor pangan hendaknya dikurangi, bukan malah ditambah. Impor beras tahun lalu sebesar 260 ribu ton. Sekarang impor beras diberi kuota 1,8 juta ton,” ungkapnya.

Terakhir, anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Timur itu mengharapkan Kementerian Keuangan membuka datanya, apakah benar data yang diungkapkan tersebut benar adanya untuk memperbaiki kinerja keuangan pemerintah.

Komentar