Jakarta, liputan.co.id – Untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda yang rutin digelar setiap 28 Oktober, MPR memperingati kegiatan tersebut dengan menggelar ‘Diskusi Empat Pilar’ yang diadakan di Media Center DPR RI, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, (29/10).
Dalam diskusi dengan tema “Makna Sumpah Pemuda Bagi Generasi Milineal” itu menghadirkan dua pembicara, yakni anggota MPR dari Fraksi Partai Golkar, Firman Subagyo dan pakar politik UIN Syarif Hidayatullah, Adi Prayitno.
Dalam pemaparan, Firman mengatakan tema yang diangkat oleh MPR untuk memperingati Sumpah Pemuda menarik. “Ada yang perlu kita pahami tentang Sumpah Pemuda dan generasi milenial,” ujar Firman.
Menurutnya, Indonesia saat ini dihadapkan pada perubahan peradaban bangsa. Perubahan yang terjadi mengandung tantangan. Tantangan yang ada seperti globalisasi ekonomi, globalisasi politik, serta perkembangan teknologi yang bisa mempengaruhi perilaku anak muda. Dikatakan, tantangan itu serius untuk diperhatikan.
Dari sebuah riset yang dirilis New York Times, generasi milineal adalah mereka yang lahir pada tahun 1981 hingga 1996. Generasi ini berkisar antara 22 dan 30 tahun. Dalam riset tersebut juga menyebut perilaku generasi ini tidak hanya bersifat positif namun juga mempunyai potensi negatif. “Generasi ini mempunyai ego yang besar sehingga mengatakan dirinya paling benar,” kata Firman, mengutip riset itu.
Berangkat dari riset itu, Firman mewanti-wanti agar waspada dan ekstra hati-hati dari ancaman globalisasi terutama perkembangan informasi lewat teknologi. Perkembangan informasi diakui sangat berpengaruh pada anak muda.
Ia mengingatkan kalau tidak memahami dan menyaring apa yang benar dan apa yang salah, apa yang boleh dilakukan dan tidak, maka dampak buruk informasi itu menurut Firman, akan menggerus generasi muda. “Dan ini mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Contohnya, banyak anak muda bahkan anak kecil, setiap hari membuka HP dan mereka bisa memilih apa yang disukai dan apa saja bisa ditonton,” ujarnya.
Dia ingatkan, dampak seperti ini yang harus dibendung. Diakui perubahan perilaku anak muda tidak hanya di perkotaan namun juga di pedesaan.
Dipaparkan, banyak anak muda di desa yang sudah tidak hafal lagu Indonesia Raya dan Pancasila. “Ada yang hafal Sila ke-1 Pancasila tapi tak tahu simbolnya,” kata Firman.
Lebih penting lagi adalah mewaspadai ego anak muda yang merasa benar dan hebat. Disebut generasi ini rentan dengan masalah sosial. “Ini akan menjadi pemicu perpecahan bangsa,” ujarnya. Firman menegaskan masalah generasi muda merupakan tanggung jawab kita bersama.







Komentar