Jakarta, liputan.co.id – Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) mengatakan, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tanpa Bhineka Tunggal Ika tidak mungkin, dan Bhineka Tunggal Ika tanpa NKRI juga tidak berarti.
“Jadi NKRI dengan Bhineka Tunggal Ika ibarat dua sisi mata uang,” kata Ustaz Hidayat Nur Wahid, dalam Dialog Sosialisasi Empat Pilar MPR RI, “Kebhinekaan dalam Bingkai NKRI”, di Media Center DPR, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Jumat (2/11).
Dia jelaskan, terciptanya NKRI itu karena menghormati dan menerima Kebhinekaan sebagaiamana yang telah diperlihatkan oleh para founding fathers, founding mothers bangsa ketika membahas Undang-Undang Dasar yang kemudian pada 18 Agustus 1945 menyepakati bentuk negara kita adalah NKRI.
Padahal lanjut Ustaz Hidayat, pada waktu membahas UUD 45 jelas sekali beliau-beliau yang terlibat di dalam, mulai dari BPUPK, Panitia Sembilan kemudian PPKI dan Panitia Khusus yang mempersiapkan UUD, adalah tokoh yang berlatar belakang yang sangat-sangat beragam seperti kalangan partai politik, nasionalis, berbasiskan agama, ada yang Islam ada yang non Islam, ragam suku juga beragam, ada yang Jawa ada di luar Jawa.
“Kalau kita perkecil saja menjadi anggota PPKI maupun anggota Panitia Sembilan, sudah nampak amat sangat terbacanya adanya penerimaan terhadap Bhineka Tunggal Ika dan kesepakatan terhadap NKRI,” ungkap politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.
Sejak dari awal kata Hidayat, semua founding fathers dan founding mothers menerima hakikat bangsa ini memang Bhineka tetapi Tunggal Ika, juga bisa menyepakati beragam hal, dan dari yang disepakati itu kemudian menghadirkan satu bentuk NKRI.
Lebih lanjut, dia juga mengungkap berbagai ujian serius terhadap NKRI. Satu diantaranya, belum lama NKRI diproklamasikan pada 17 Agustus, maka pada 18 Agustus tepatnya dengan disahkannya UUD, maka pada September 45, Indonesia sudah di gonjang-ganjingkan oleh serangan Belanda dan sebelum itu sudah ada perubahan bagaimana kemudian para founding fathers menerima Bhinneka Tunggal Ika itu dalam konteks NKRI dan tugas saling menyelamatkan ketika kemudian ada tuntutan agar Sila Pertama dari Pancasila untuk diubah menjadi Ketuhanan yang Maha Esa.
“Itu saja menggambarkan betapa para founding fathers memberikan Indonesia kita Bhinneka Tunggal Ika, kita bisa menerima dan memberikan solusi terhadap masalah yang dimunculkan,” ujar dia.







Komentar