Jakarta – Politisi Partai Gerindra Heri Budianto mengatakan narasi-narasi yang dimainkan dalam kampanye dari para tim kampanye pasangan calon Presiden dan calon Wakil Presiden masih sangat jauh dari harapan masyarakat, dimana masyarakat harus dihadapkan dengan keterpurukan ekonomi, penegakan hukum yang tak berimbang, janji penuntasan kasus HAM tak kunjung datang, pendidikan hingga kesehatan yang masih menjadi masalah utama bangsa.
Juru bicara Prabowo Subainto-Sandiaga Salahuddin Uno ini menyarankan agar semua tim sukses dan tim kampanye baiknya bermain pada narasi-narasi konstruktif yang membangun dan mendidikn masyarakat.
Menurut akademisi Universitas Mercu Buana itu, kontestasi Pilpres 2019 sesungguhnya akan tersaji pada tanggal 17 Januari 2019 mendatang, dimana para pasangan Capres-Cawapres akan diuji terkait dengan gagasan dan program mereka untuk lima tahun ke depan.
“Kalau semua tim konsentrasi pada narasi masing-masing, maka masyarakat akan tercerdaskan. Ke depan kita main pada narasi-narasi yang konstruktif, membangun dan mendidik aja lah. Saya sepakat 17 Januari kita sama-sama masuk pada konstestasi sesungguhnya, dan saya yakin kita akan ketauan mana yang memiliki konsep-konsep yang sebenarnya,” kata Heri Budianto saat membawakan materi pada diskusi public kerja sama Mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi, konsentrasi politik Mercu Buana dan Koordinatoriat Wartawan Parlemen dengan Tema, “kampanye Gagasan dan Program Capres-Cawapres Pemilu 2019” di Ruang Presroom DPR-RI, Jumat (21/12).
Dikatakan Calon Anggota DPR-RI daerah pemilihan Provinsi Bengkulu ini, isu kampanye yang akan diutamakan oleh tim kemenangan nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin adalah keberhasilan Capresnya, namun, dalam hal ini, Jokowi pun memiliki kelemahan yang tak bisa disembunyikan oleh timnya.
“Kalau petahana yang jualannya keberhasilan, kalau pak Prabowo apa yang mau dikritik. Prabowo belum memimpin, jadi belum bisa dikritiki, kalau pak Jokowi sudah memimpin, wajar kalau ada lemah,” ucapnya.
Politisi Partai Gerindra ini juga menjelaskan terkait dengan pernyataan Prabowo Subianto soal Indonesia punah bila dirinya kalah dalam Pilpres 2019 nanti. Menurut politisi yang akrab disapa Herbud itu, punah yang dimaksud oleh Prabowo lebih pada kedaulan pangan. Selain itu, Indonesia tidak memiliki kedaulatan sebagai bangsa. Parahnya, tim lawan lebih menggiring isu pada ancaman Indonesia akan hilang atau bubarnya Indonesia nanti.
“Indonesia punah bukan berarti Indonesia selesai, dan tidak ada lagi NKRI, ini bicara tentang apa yang disampaikan Pak Prabowo, kita tidak memiliki kedaulatan sebagai sebuah bangsa, ini yang kita hawatirkan sebenarnya. Misalkan kedaulatan pangan, sebenarnya kita sudah mencoba membangun narasi-narasi bagaimana kita menawarkan konsep tentang ketahanan pangan, kita adopsi dari teman-teman Partai Berkarya, kemudian bagaiman pak Harto menerapakan hingga bisa swasembada pangan, kurang lebih pak Prabowo juga akan menerapkan hal yang sama, tapi pernyataan itu dilihat dari perspektif-perspektif negatifnya,” jelasnya.
“Narasi itu muncul, lagi-lagi media dalam tanda kutip mengframe hal-hal yang kemudian itu diangkat ke public dan itu tidak baik. Nah tadi sudah dijelaskan. Narasi-narasi bombastis tidak hanya dibangun oleh kami, tapi Pak Jokowi juga terjebak dalam membangun narasi-narasi bombastis, misalnya seperti tabok, soal genderuwo dan itu sangat menyeramkan. Kan genderuwo itu menyeramkan, masyarakat juga jadi takut,” tutup Caleg Gerindra nomor urut dua itu. (rth/liputan)







Komentar