Anggota MPR Ini Khawatir, Pemilih Jadikan 17 April Sebagai Harpitnas

Jakarta – Anggota MPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Daniel Johan mengatakan pemilihan umum (Pemilu) dalam satu negara demokrasi adalah hal biasa sebagai cara bagi rakyat menentukan pemimpinannya.

Masalahnya menurut Daniel, budaya masyarakat Indonesia yang selalu mencari hari kejepit nasional (Harpitnas) sebagai waktu untuk berlibur.

“Hal yang saya khawatirkan, hari Rabu tanggal 17 April 2019 hari pencoblosan itu mereka jadikan sebagai Harpitnas, sehingga berpotensi masyarakat memilih libur panjang,” kata Daniel, dalam Diskusi 4 Pilar MPR RI “Meningkatkan Partisipasi Politik Masyarakat”, di Media Center DPR RI, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (25/2/2019).

Selain itu lanjut Daniel, kaum milenial yang hingga kini kurang tertarik dengan proses politik lima tahunan ini. “Terbuka kemungkinan kaum milenial yang jumlahnya lebih dari 30 persen itu juga akan punya agenda masing-masing di luar hajatan demokrasi nasional,” tegas Daniel.

Bahkan, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI ini juga melihat fenomena hoaks berpotensi pemecah kosentrasi ikut pemilu di antara sesama warga. “Hoaks ini bisa menimbulkan sikap apatis dan kekhawatiran tersendiri kelompok milenial,” ujar dia.

Oleh karena, Daniel berharap media massa berperan aktif meminimalisir hoaks itu. “Kalau hoaks mampu memengaruhi masyarakat, maka Jokowi yang dirugikan,” ungjapnya.

Terakhir, Daniel juga mendorong peranan para calon anggota legislatif (caleg) harus aktif ke daerah-daerah untuk membangun antusias masyarakat ikut pemilu.

“Caleg harus punya kesadaran untuk meletakan pilpres dan pileg sama pentingnya sehingga pemilu berjalan dengan partisipasi yang tinggi,” imbuhnya.

Komentar