Dja’far Shodiq: Interupsi! Masyarakat Madura Tersinggung

Jakarta – Anggota Komisi VIII DPR RI Dja’far Shodiq mengkritisi banyaknya aktivitas pertambangan di Pulau Madura tidak bisa dinikmati masyarakat Madura. Bahkan aktivitas pertambangan itu menurut Dja’far, tidak melibatkan masyarakat Madura, sehingga masyarakatnya masih banyak yang miskin.

“Aktivitas (pertambangan) di hilir tidak berada di Madura, ini sangat menyinggung kami masyarakat Madura. Apa masyarakat Madura tidak dipercaya lagi dan masyarakat Madura dianggap masyarakat kelas bawah?,” tanya Dja’far, saat menyampaikan interupsi pada Rapat Paripurna, di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (13/2/2019).

Politisi Partai NasDem itu mencontohkan kegiatan pipa gulungan yang eksplorasinya di Sumenep, namun pipanya keluar di daerah lain. Begitupun dengan kegiatan pertambangan yang berlangsung di Sampang, namun pipanisasinya berada di Pasuruan. Hal itu dia nilai tidak berdampak terhadap masyarakat Madura.

“Kegiatan migas di Jawa Timur 60 persennya di empat kabupaten di Madura. Alangkah naifnya kalau masyarakat kami hasil buminya diambil, tapi masyarakatnya tidak menikmati apa-apa dari hilir, alias masih miskin,” tegas Anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Timur XI itu.

Fakta yang tidak jauh berbeda lanjutnya, juga terjadi di Pulau Kambing, Madura yang masyarakatnya banyak menderita lepra. Dari kondisi tersebut bahkan setiap Gubernur Jawa Timur otomatis akan menjadi Ketua Asosiasi Penyakit Lepra Nasional.

“Sayangnya, kenyataan tersebut tidak berdampak positif pada penderita lepra di Pulau Kambing, tidak ada penanganan apa-apa yang dilakukan untuk penderita lepra. Dari sana tak salah jika kemudian masyarakat Madura meminta daerah tersebut menjadi provinsi sendiri, yakni Provinsi Madura,” pungkas Djafar.

Komentar