Akhmad Muqowam Merasa Kehilangan Akal Di Pileg 2019

Jakarta – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Akhmad Muqowam maju sebagai calon Anggota DPR RI dalam Pemilu Legislastif 2019 melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dari daerah pemilihan (dapil) Jawa Tengah I meliputi Semarang, Kendal, Kota Salatiga dan Kota Semarang.

“Meski dapil Jawa Tengah I itu cuma empat kabupaten dan kota, namun ‘dalamnya’ minta ampun,” kata Muqowam, dalam Diskusi Empat Pilar MPR RI, bertema “Etika Politik dalam Pemilu 2019”, di Media Center DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, (11/3/2019).

Kalau akan menemui konstituen di dapil lanjutnya, maka tolak ukurnya cuma satu, ada amplopnya atau tidak? “Jadi mohon maaf, kalau bicara orang sekarang ini maka tolak ukurnya cuma satu, saya ketemu kelompok, tokoh masyarakat, ujungnya adalah ada amplopnya ga, itu yang mengerikan, ini satu fakta politik,” ujar dia.

Beda pada Pemilu Legislatif 2009, di mana Muqowam mencalonkan di dapil Jawa Tengah X. Dulu hingga hari ini lanjutnya, yang namanya komunikasi tidak pernah dia lakukan. “Sekarang itu, menurut saya Komunikasi itu adalah Teko Muni dan Kasih, maka kalau ga ngasih maka ga akan dipilih, jadi psikologi politik kita saya rasa menarik,” ungkapnya.

Kalau berbicara etika politik ujarnya, berarti ada agama, ada Pancasila, dan nilai atau value bahkan budaya yang dibanggakan. Faktanya ujar dia, mau pemilu presiden ataupun pemilu legislatif yang terjadi adalah satu proses “dis” yang luas biasa.

Padalah yang namanya etika politik itu baik caleg, partai, capres, wartawan dan masyarakat serta semuanya menurut dia, harus beretika. Kalau semua beretika maka dunia ini damai.

Oleh karena itu kalau disaripatikan untuk kesepakatan NKRI dalam konteks Pancasila, Muqowam mempertanyakan, di mana letak Ketuhanan yang Maha Esa di dalam Pemilu ini, saya pertanyakan itu. Hari ini saya melihat masyarakat keseluruhan dalam perpolitikan hari ini, dari pemilu ke pemilu yang saya rasakan sudah lima kali, baru kali ini beratnya luar biasa dan hari ini saya merasa kehilangan akal,” ungkapnya.

Ditegaskan Muqowam, jangan berpikir jadi, kalau tidak ada uang. Sebagai caleg dari partai berbasis Islam Muqowam menyatakan sadar betul akan ketentuan agama bahwa pemberi dan penerima suap sama-sama masuk neraka. Tapi di sisi lain fakta berbicara, kalau tidak mengasih maka pasti kalah untuk menuju Senayan.

“Jadi, orang yang berfikir prilaku pragmatis hari ini sangat luar biasa sekali. Oleh karena itu maka etika harusnya ada di mana-mana, tidak sekedar calegnya saja,” imbuh Muqowam.

Komentar