Pengamat: Klaim Paling Pancasilais dan Nasionalis Rugikan NKRI

Jakarta – Pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago mengatakan masyarakat Indonesia sesungguhnya tidak mau lagi diajari tentang toleransi berbangsa dan bernegara. Sebab kata Pangi, masalah toleransi ini sudah clear. Kalau saat ini muncul kembali fenomena toleransi ini, sesungguhnya merupakan langkah mundur bagi NKRI.

Demikian dikatakan Pangi dalam Diskusi Empat Pilar MPR RI “Merawat Kebhinekaan Indonesia”, di Media Center DPR RI, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan – Jakarta, Senin (4/3/2019).

“Ada memang pihak-pihak tertentu yang membenturkan ‘Nasionalisme’ dengan ‘Islam’ dalam bentuk klaim kelompoknyalah yang paling nasionalis, paling Pancasilais serta paling Islam. Ini memang tidak menguntungkan bangsa Indonesia ke depan,” kata Pangi.

Terlebih pasca-Pilkada DKI Jakarta dan Pemilu Presiden 17 April nanti. Dalam catatan Pangi, ada gelombang baru yang dibangun dalam bentuk paradigma bahwa Islam tidak bisa menerima kepemimpinan non-Islam ketika calon kepala daerah non-muslim kalah di daerah mayoritas penduduk beragama Islam.

Padahal lanjutnya, fakta kekalahan calon kepala daerah di daerah dengan mayoritas beragama Islam sering terjadi di era pemilihan langsung kepala daerah. “Adu-domba ini yang saya maksud terjadi di mana-mana. Pembelahan seperti ini yang sulit kita terima di negara demokrasi,” tegas laki-laki kelahiran Kabupaten Sijunjung itu.

Dia ingatkan, Negara Indonesia dibangun berdasar ketuhanan. Jadi tidak relevan ketika masih ada kelompok yang mengaku paling ‘Nasionalis’ dan paling ‘Pancasila’, sementara kelompok lainnya tidak nasionalis dan tidak Pancasilais.

Akibatnya kata Direktur Eksekutif Voxpol Center ini, terjadi pergeseran kepercayaan kepada tokoh-tokoh adat dibanding dengan tokoh-tokoh agama dan nasionalisme. “Dalam kondisi seperti ini maka tokoh-tokoh adat justru jadi merekat dan merawat kebhinekaan itu,” tegasnya.

Lebih lanjut, sebagai peneliti Pangi mengungkap pengalamannya saat menjalankan profesinya ke banyak daerah di Indonesia yang menemukan fakta kejenuhan masyarakat lokal terhadap elit-elite politik yang berada di Jakarta.

“Saya temukan suara-suara lantang dari Aceh, Papua dan sebagian Bali yang mana para tokoh adatnya muak juga dengan berbagai sikap tokoh-tokoh di Jakarta ini. Mereka yang saya persepsi begitu aktif diskusi soal melepaskan diri dari Indonesia,” ungkapnya.

Komentar