Jakarta – Praktisi Media Arief Gunawan menyambut positif posisi mayoritas media online dan media sosial di Indonesia yang sangat cepat mengoreksi berbagai data yang disampaikan selama debat pasangan calon presiden berlangsung. Efek dari agresifnya dua media itu menurut Arief, telah memaksa apa yang selama ini disebut sebagai media mainstream untuk mengambil posisi yang sama yaitu mengungkap fakta data apa adanya.
Hal tersebut dikatakan Arief dalam Diskusi Forum Tebet (Forte) “Menguji Kehebatan Kartu Sakti (Evaluasi Debat Cawapres Ma’ruf Amin & Sandiaga Uno)”, di Kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (19/3/2018).
“Sejak debat pilpres putaran pertama hingga ketiga kemarin, ramai-ramai media online dan media sosial mengoreksi data yang salah disuguhkan ke publik. Ini akhirnya memaksa media mainstream (cetak), juga kompak mengkritisi data yang diungkap oleh masing-masing pasangan calon presiden,” ujar Arief.
Bahkan lanjutnya, dalam konteks mengoreksi data, salah satu search engine terbesar di dunia juga telah berperan aktif untuk meluruskannya. “Ini suatu gejala bagus karena ada ranah publik untuk meluruskan semua data. Dua pasang calon presiden jangan main-main dengan data karena jejak digital akan meluruskannya,” tegas dia.
Menyinggung berbagai kartu sakti yang akan diproduksi oleh pasangan calon presiden nomor urut 01 jika memenangkan pilpres pada 17 April nanti, Arief menilai sebagai satu fenomena yang bersifat instan. “Era SBY juga ada BLT. Terbukti BLT itu instan, sementara masalah pokoknya tidak tersentuh. Rakyat diiming-iming kartu, itu namanya rezim lolypop, dikasi untuk dimut-mut,” kata Arief.
Dijelaskannya, iming-iming rencana pembuatan kartu ini hanya menyederhanakan masalah yang sebetulnya sangat rumit karena terkait dengan pendidikan, lapangan kerja dan kesehatan serta sembako.
“Bagaimana mau bayar kartu-kartu, bayar dulu donk honor guru honorer. Soal kartu sembako, bagaimana mengaplikasikannya sementara sembako saja masih ugul-ugulan diimpor,” ujar dia.
Terakhir, wartawan senior itu menyarankan agar pasangan calon presiden nomor urut 01 belajar dari kekalahan Jepang dalam Perang Dunia Kedua tahun 1945. “Sadar dengan kekalahannya, Kaisar Jepang Hirohito saat itu menghitung para guru yang masih hidup untuk segera membenahi sektor pendidikan. Hasilnya dalam waktu relatif singkat Jepang pulih dari keterpurukannya sebagai negara,” imbuh Arief.







Komentar