JAKARTA – Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian (Kementan) Agung Hendriadi tidak menapik adanya kenaikan harga pangan di daerah. Pasalnya, disetiap pasar tradisional di daerah pasti ada pihak yang sengaja bermain harga.
Kelangkaan dan kenaikan harga pangan di daerah, seperti gula pasir sudah diketahui oleh Pemerintah Pusat hingga Bulog mengambil langkah cepat dengan melakukan impor, agar distribusi gula pasir ke seluruh daerah di Indonesia terlaksana, sekaligus menekan kenaikan harga gula itu sendiri.
“Memang sekarang ini yang namanya gula pasir itu Kementerian sudah mengambil kebijakan, pertama penetapan impor oleh Bulog, yang kedua adalah pengalihan rapinasi menjadi gula putih,” kata Hendriadi kepada wartawan di Gedung TTIC BPK Kementan, Jakarta pada, Senin (20/4).
Menurut Hendriadi, jumlah impor yang dilakukan oleh Bulog cukup besar untuk dua bulan ke depan. Berdasarkan data kebutuhan masyarakat Indonesia, dalam kurun sebulan kebutuhan gula pasir bagi masyarakat Indonesia sebanyak 250 ribu ton. Olehnya itu, Bulog melakukan impor sebanyak 500 ribu ton.
“Jumlahnya cukup, mungkin total jumlahnya mencapai 500 ribu ton, kita kan 250 ribu ton sebulan,” ucapnya.
Dikatakan Hendriadi, selain permainan harga oleh pihak tak bertanggung jawab, aliran distrubusi juga sedikit terhambat karena kondisi bangsa yang sedang dilanda bencana non alam, yakni pandemik COVID-19.
“Nah memang aliran belum sampai mungkin, tapi saya yakin karena kami sudah melihat ke pabriknya, sudah melihat pengolahannya, bahkan pengirimannya sudah,” jelasnya.
Kelangkaan gula pasir ini tidak hanya terjadi di Sulawesi Tenggara (Sultra) dan Papua, tapi wilayah Indonesia Barat seperti Provinsi Riau pun mengalami hal yang sama. Untuk itu, pihak Kementerian terus melakukan pengecakan ke pabrik dan proses distribusi ke daerah.
“Jangankan Papua dan Sultra, Riau juga melaporkan ke saya, tapi saya katakan saya akan cek, kemudian muda-mudahan ini segera masuk ke daerah-daerah tersebut ya,” tutupnya. (***)







Komentar