Oleh: Dedi Mahardi*
Haruskah virus yang mengubah perilaku manusia? Itu pertanyaan dalam benak kami beberapa hari belakangan ini. Lebih kurang tiga bulan yang lalu hampir semua Negara di seluruh penjuru dunia, dibuat kaget sekaligus cemas oleh sejenis virus yang bernama Corona atau Covid-19 di kota Wuhan Tiongkok.
Ada yang cemas sambil tetap menyombongkan diri bahwa virus tersebut tidak akan sampai ke Negara mereka karena jaraknya sangat jauh atau karena berbagai macam alasan lainnya. Tetapi buktinya apa? Tak pandang bulu dan tak pandang jarak, virus tersebut langsung menyebar dengan cepat dan menyerang siapa saja termasuk pangeran sang pewaris tahta kerajaan Inggris, perdana menteri Inggris, wakil presiden Iran dan tokoh-tokoh termasuk artis terkenal.
Kecemasan sebagian besar penduduk dunia semakin bertambah karena lambatnya ditemukan obat penyembuh dan serum pencegah atau serum imunisasi dari virus tersebut. Yang lebih dasyat lagi virus ini masih bisa menyebar atau menular dari orang yang sudah meninggal atau mayat seseorang yang positif kena virus tersbut.
Lembaga-lembaga riset atau penelitian sibuk mencari obat dan pencegah serta cara-cara pola hidup sehat yang dapat mencegah virus ini berpindah dari manusia ke manusia lainnya. Diantaranya rajin cuci tangan dengan sabun atau zat disinfektan, menggunakan masker, jaga jarak dan dilarang untuk berkumpul termasuk berkumpul untuk mengadakan ibadah keagamaan. Walaupun dilarang berkumpul untuk sholat jamaah dan kegiatan keagamaan lainnya sempat ditentang oleh sekelompok umat yang lebih percaya kepada takdir kematian.
Kepada kelompok ini pernah sambil bercanda kami katakan, “kalau anda yakin tidak akan mati sebelum waktunya tiba, coba anda seharian jongkok di jalan kereta api atau di tengah jalan tol”. Tetapi begitu ada bukti yang langsung positif corona dari beberapa acara keagamaan seperti acara keagamaan di sebuah geraja di Bandung serta takblig akbar di Malaysia, akhirnya mayoritas umat terpaksa mengikuti.
Bayangkan, ternyata virus dapat mengubah pola hidup manusia menjadi lebih bersih bahkan dapat mengubah kebiasaan atau keharusan beribadah bersama menjadi ibadah secara sendiri-sendiri di rumah. Sebab jangankan ibadah biasa, ibadah umroh dan ibadah jumatan di pusat agama Islam Masjidil Haram pun untuk sementara waktu harus dihentikan, dan semuanya juga dikuatkan oleh penguasa Arab.
Kalau di negeri ini Majelis Ulama Indonesia atau MUI juga sudah mengeluarkan fatwa tentang kewajiban menjaga diri dari wabah penyakit serta membolehkan mengganti ibadah sholat jamaah dan sholat Jumat dengan sholat di rumah. Seketika suasana berubah menjadi sepi di mana-mana, karena sebagian besar rakyat mematuhi imbaun untuk tidak keluar rumah kecuali karena alasan yang benar-benar penting tak bisa ditunda.
Begitu juga dengan banyak sekolah yang mengubah sistim belajar di kelas dengan sistim belajar online dari rumah, termasuk ujian, dan sebagian instansi juga telah menerapkan kebijakan bekerja dari rumah secara online.
Jika virus corona secara nyata sudah mampu merubah perilaku dan kebiasaan hidup dan malah bisa merubah kebiasaan beribadah umat beragama, bagaimana dengan pikiran manusia?
Seharusnya bukan virus, tapi agama, budaya dan aturan dapat membuat manusia menjadi hidup teratur, taat aturan agama dan aturan hukum serta saling menyayangi serta memberi manfaat kepada sesama.
Akan tetapi kecenderungan yang terjadi pada sebagian manusia di negeri ini justru malah sebaliknya, walaupun maraknya ibadah keagamaan di negeri ini cenderung meningkat. Ada sebagian orang yang malah menjadikan agama sebagai alat untuk meraih keuntungan atau mencapai tujuan, seperti modus penipuan dengan embel-embel syariah dan lain sebagainya.
Demikian kegundahan kami sebagai bagian dari anak bangsa ini, sambil berdoa kepada Yang Maha Kuasa jangan sampai diturunkan virus baru yang baru bisa menginsyafkan manusia.
*Inspirator-Inovator_author






