TKA China yang Diamankan Masyarakat Punya KTP, Akademisi: Sudah Gawat

JAKARTA – Gelombang protes yang dilakukan oleh mahasiswa dan masyarakat di Sulawesi Tenggara (Sultra), atas keputusan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang mengijinkan ratusan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China untuk bekerja di perusahan pemurnian nikel di Konawe, Sultra.

Mahasiswa dan masyarakat juga diketahui mengamankan para pekerja asal China saat melakukan aksi blokade di kawasan Bandara Haluoleo. Bahkan, dalam aksi blokade tersebut, massa aksi berhasil mengamankan tiga pekerja asal China yang kemudian diketahui memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Indonesia.

Menanggapi kejadian ini, Rektor Universitas Ibnu Khaldul yang juga outra asli Sultra Musni Umar mengatakan, jika TKA China sudah memiliki KTP, maka hal tersebut sudah berbahaya.

“Sudah gawat. TKA China bisa punya KTP,” tulis Musni Umar di akun media sosial twitternya, Selasa (23/6).

Mantan Anggota DPR-RI asal Sultra itu melanjutkan di tweet yang lain menegaskan, Pemerintah baik pusat maupun daerah seharusnga tidak mengijinkan oekerja asal China ke Indonesia, apalagi ke Sultra, karena pandemi COVID-19 belum selesai dan angka pasien positif makin meningkat.

“Seharusnya TKA China tidak masuk di Indonesia apalagi di Kendari Sultra. Wuhan China sumber corona dan Beijing China sdg terjadi gelombang ke-2 corona,” kata Musni.

Lanjut Musni, saat ini wilayah Konawe masuk dalam zona merah penyebaran COVID-19 di Sultra, jadi Pemerintah harus menyadari hal tersebut.

“Kab Konawe tempat pabrik China masuk zona merah corona. Saya hanya berkt prihatin,” akuinya. (***)

Komentar