oleh

Sultan B Najamudin Sebut DPD RI Mitra Strategis Bulog

Jakarta – Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) mempunyai kedekatan dan hubungan dengan daerah-daerah. Sebab kata Wakil Ketua III DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, empat anggota DPD RI yang datang dari masing-masing provinsi dipilih secara langsung dan secara personal lebih dikenal oleh para pemilih serta tahu kondisi sosial dan ekonomi daerah pemilihannya.

Demikian dikatakan Sultan ketika menyampaikan pendahuluan rapat Rapat Dengar Pendapat Komite II DPD RI dengan Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso, di pimpin Ketua Komite II DPD RI Yorrys Raweyai, membahas pengawasan DPD RI atas pelaksanaan UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, di Gedung DPD RI Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (2/6/2020).

“Sebagai representasi daerah di Ibu Kota Negara, DPD RI berkewajiban bermitra dengan kementerian, badan dan lembaga-negara untuk kepentingan daerah. Kalau Perum Bulog ingin programnya berjalan optimal, maka DPD RI adalah mitra strategisnya karena kami lebih mempunyai kedekatan dengan daerah-daerah,” kata Sultan.

Di samping harus bermitra dengan banyak institusi negara dan pemerintahan lanjut Senator Indonesia asal Bengkulu itu, DPD RI juga harus menjalankan tugas konstitusinya antara lain melakukan pengawasan dengan cara lebih banyak turun ke daerah-daerah serta berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat untuk menyerap aspirasi dan mendengarkan keluhan masyarakat.

“Kita jemput aspirasi daerah, sebaliknya juga bisa langsung menyampaikan dan menyosialisasikan program-program Bulog ini kepada masyarakat di daerah. Jadi semua hal baik tentang Bulog ini akan kami sampaikan kepada masyarakat,” ujar Sultan.

Dukung Modernisasi Bulog
Dalam rapat, Ketua Komite II DPD RI Yorrys Raweyai menyatakan mendukung modernisasi Perum Bulog untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Yorrys berharap ada sinergitas antara DPD RI, Pemda, dan Bulog di daerah untuk mendukung strategi Bulog menjaga ketahanan pangan nasional.

“Saya berharap peran Bulog ke depan harus mampu mengakodomasi petani dan komoditas lokal daerah untuk diserap. Kita ketahui kebutuhan pangan tidak hanya masalah beras, di setiap daerah punya komoditas pangan lokal yang berbeda-beda, jika bisa produksi pertanian diarahkan menjadi modern maka produksi pangan meningkat dan Bulog akan semakin ringan tugasnya,” ujar Yorrys.

Dia katakan, DPD RI secara kolektif kolegial bersama DPR RI dan Pemerintah mendengarkan masukan dari Bulog dan mendukung peran dan fungsi Bulog dalam menjaga ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.

“Saya harap ke depan diperlukan sinergitas yang baik antara DPD RI di daerah, Pemerintah Daerah dan Bulog. Harapan saya, setiap Bulog mengadakan kegiatan ataupun program-program kerja di daerah jangan sungkan untuk melibatkan dan mengundang Anggota DPD RI di daerah, sehingga masyarakat bisa melihat wujud nyata dan peran dari kinerja kita semua dalam menjaga kesejahteraan daerah utamanya ketersediaan pangan,” imbuhnya.

Sedangkan Budi Waseso menjelaskan peran Bulog dalam membantu mewujudkan kedaulatan pangan dengan cara menegakkan Tiga Pilar Ketahanan Pangan.

“Pertama Pilar Ketersediaan, kita melaksanakan kebijakan pembelian pangan. Kedua Pilar Keterjangkauan, Bulog berupaya melakukan pemerataan stok pangan nasional, dan ketiga Pilar Stabilitas, Bulog berusaha menjaga stabilitas harga di tingkat petani dan konsumen,” ujar Budi Waseso.

Mantan Kabareskrim Polri itu menegaskan, selama masa pandemi Covid-19, Bulog tidak libur dan terus bekerja menyalurkan kebutuhan pangan pokok ke seluruh pelosok Indonesia untuk menjaga ketahanan pangan.

“Dalam membantu mengantisipasi pandemi Covid-19 Bulog tetap bekerja tanpa henti menyalurkan bahan pokok, juga bantuan sosial dari pemerintah ke seluruh pelosok daerah baik melalui mekanisme online maupu offline. Kami menyambut baik dukungan DPD RI turut mengawasi kinerja Bulog,” ujarnya.

Sementara Wakil Ketua Komite II DPD RI Bustami Zainudin mengungkapkan pentingnya inovasi dan modernisasi teknologi pertanian agar dilirik oleh kaum milenial.

“Petani kita di daerah sudah pada tua, anak-anak muda tidak melirik karena profesi ini dianggap status sosial rendah dan tidak menghasilkan. Saya kira, jika inovasi produk pertanian menggunakan teknologi semakin masif diterapkan, maka ekonomi daerah dan pendapatan petani akan meningkat,” ungkapnya.

Senator asal Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Angelius Wake Kako meminta Bulog harus memperhatikan kearifan komoditi pangan lokal dan tidak hanya mengandalkan beras sebagai bahan makanan pokok.

“Seperti kita ketahui masing-masing daerah mempunyai komoditas pakan lokal seperti sagu, singkong, jagung dan lainnya sebagai bahan makanan utama. Saya harap Bulog memperhatikan itu, bukan berarti kalau tidak makan beras tingkat kehidupannya tidak sejahtera, saya harap petani lokal yang memproduksi budidaya pertanian lokal juga diserap oleh Bulog,” pinta Angelius.

Komentar

Loading...