oleh

Komisi X DPR Optimis Gerakan Bersih Indah Sehat Aman Mampu Pulihkan Pariwisata

Tegal – Wakil Ketua Komisi X DPR, Abdul Fikri Faqih optimis Gerakan Bersih Indah Sehat Aman (BISA) yang digagas Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjadi salah satu upaya efektif untuk memulihkan sektor pariwisata yang baru saja diterpa badai pandemi Covid-19.

“Badai pandemi telah memukul sektor ekonomi andalan devisa negara ini, sedikit upaya dalam BISA semoga menjadi obat bagi masyarakat pelaku di lokasi wisata,” kata Fikri saat membuka kegiatan BISA di depan ratusan peserta di desa wisata Lembah Rembulan, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, yang digelar Selasa hingga Rabu (11-12 /8).

Dia menambahkan, pandemi telah membawa Indonesia ke dalam jurang resesi ekonomi. “Banyak pihak sudah bilang kita masuk resesi, minus pertumbuhan sudah 5,2 persen,” imbuh Fikri.

Pariwisata dan ekonomi kreatif, lanjutnya, adalah sektor penyumbang devisa dan Produk Domestik Bruto negara. “Tourism sudah jadi andalan devisa nomor dua setelah CPO, bahkan bisa jadi bila digabung dengan sektor ekonomi kreatif menjadi nomor satu,” ungkapnya.

Sehingga, ambruknya sektor pariwisata Indonesia telah memperburuk kondisi resesi ekonomi RI yang dihajar pandemi covid-19. “BISA ini merupakan rintisan bagi pelaku sektor wisata di daerah untuk bangkit, bagaimana menyiapkan lokasi wisata sesuai adaptasi kebiasaan baru (new normal) agar senantiasa mematuhi protokol Kesehatan,” tambahnya.

Karena pariwisata tidak dipungkiri menjadi penyambung nafkah bagi mayoritas masyarakat terutama di daerah wisata. “Saat ini menjadi saat yang tepat untuk memperbaiki mindset dan standar tempat wisata yang aman, terutama agar tidak menjadi klaster baru Covid,” ujar Fikri.

Politikus PKS ini juga menekankan pentingnya mengangkat isu lingkungan dalam BISA untuk memperbaiki citra destinasi wisata yang ratingnya rendah. “Wisata kita dicitrakan dunia tidak peduli lingkungan, kotor banyak sampah, contohnya ada dokumenter tentang sampah di puncak Rinjani dan pantai Kuta Bali, mungkin ini jadi penyebab target kita untuk menghadirkan 20 juta turis gagal tercapai,” urai dia.

Direktur Pengendalian Kebijakan Strategis Kementerian Parekraf RI, Hasan Abud menilai ekonomi di destinasi wisata tidak mungkin berhenti stagnan terus menerus karena pandemi. “Sebagian daerah sudah bertahap dibuka, ada yang 50 hingga 75 persen agar tetap berjalan, pada dasarnya BISA untuk meningkatkan value destinasi wisata di masa pandemi ini agar turis tetap nyaman dan merasa aman berkunjung,” kata dia.

Menurut Hasan, pandemi ini tidak tahu kapan berhenti, namun kegiatan usaha harus tetap jalan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. “Menyikapinya harus dengan protokol Kesehatan, pakai masker, menjaga jarak dan tidak berkerumun, serta tetap higienis,” imbuhnya.

Dia mengapresiasi Wakil Ketua Komisi X, Abdul Fikri Faqih yang telah memperkenalkan desa Lembah Rembulan sebagai alternatif wisata baru di daerah Guci, Kabupaten Tegal. “Namanya indah sesuai lokasinya, agar masyarakat tidak hanya kenal Guci jika ke Tegal, tapi juga Lembah Rembulan,” seru Hasan.

Pelaksana Teknis Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Tegal, Suharinto mengakui semua destinasi wisata di wilayahnya, baik yang dikelola dinas kabupaten maupun desa wisata telah ditutup. “Semua tutup sudah empat bulan,” katanya.

BISA diharapkan menumbuhkan Kembali geliat wisata di kabupaten tegal, khususnya oleh pelaku di desa wisata. “Kami berterimakasih atas bantuan alat-alat kebersihan yang disalurkan oleh pa Fikri dan Kemenparekraf ke desa Lembah Rembulan, budaya bersih adalah faktor utama daya Tarik wisatawan ke lokasi wisata,” pungkasnya.

Komentar

Loading...