oleh

Sindir Ibas, Pendukung Pemerintah Dinilai Kurang Budaya Literasi

Jakarta – Wakil Sekertaris Jenderal (Wasekjen) DPP Partai Demokrat Irwan menyikapi pernyataan sejumlah Menteri Kabinet Joko Widodo atau Jokowi serta politikus pendukung pemerintah yang menyindir  Ketua Fraksi Partai Demokrat (FPD) DPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas).

Bahkan menurut Iwan, pernyataan itu juga memperlihatkan yang bersangkutan kurang menerapkan budaya literasi dan tabayyun terhadap suatu informasi.

“Justru yang terkesan kurang budaya literasi dan tabayyun sehingga pernyataannya menjadi liar dan menggelitik akal sehat. Karena pidato Mas Ibas tidak ada menyerang siapapun apalagi secara personal, harusnya mereka bisa baca konteks pidato secara utuh,” ujar Irwan dalam rilisnya, Sabtu (8/8/2020)

Ia pun mengingatkan agar dalam setiap menanggapi suatu informasi, tidak hanya di respon secara agresif dan bersikap asal pimpinan senang saja, tanpa mencermati konteksnya secara utuh.

“Menurut saya adalah respon terburu-buru tanpa budaya literasi yang kuat terhadap rekam sejarah perekonomian Indonesia, dan juga sebuah sikap yang asal pimpinan (bapak) senang (ABS) saja tanpa bisa melihat secara jujur konteks dari yang disampaikan Mas Ibas,” ujarnya.

Oleh karena itu Anggota DPR dari daerah pemilihan Kalimantan Timur itu mengingatkan, sebagai anak bangsa hilang nilai kepatriotan bangsa sejarah ditinggalkan. Apalagi mencoba menyalahkan sejarah yang ada.

“Apa yang disampaikan Mas Ibas adalah fakta sejarah bahwa bersama bapak SBY selama 10 tahun ekonomi Indonesia saat itu meroket, APBN kita meningkat, utang dan defisit kita terjaga. Jadi kalaupun ekonomi hari ini minus 5,32 persen itu pun bagian dari fakta sejarah perekonomian Indonesia nantinya ke depan. Semoga saja pemerintah bisa menyelamatkannya agar rakyat dan negara bisa bangkit,” pungkas anggota Komisi V DPR RI.

Sebelumnya, Kamis (6/8), Fraksi Demokrat yang dipimpin Ibas menggelar silaturahmi dengan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) di Kompleks Parlemen, Jakarta. Dalam acara tersebut, Ibas selaku tuan rumah menyampaikan pidato politik dihadapan peserta yang hadir.

Banyak poin yang disampaikan Ibas. Pertama, dia menyinggung soal tantangan berat yang dihadapi Indonesia saat ini. Mulai dari pandemi Covid-19, ekonomi, pembangunan, kesejahteraan, penegakan hukum, demokrasi, dan hak-hak sipil.

Ditambah lagi, pembahasan regulasi yang belum rampung seperti RUU HIP atau yang sekarang diubah menjadi BPIP dan RUU Cipta Kerja, isu-isu RUU Pemilu serta RUU Pilkada. Kata Ibas, isu-isu itu menarik untuk dicermati ke depan.

“Rakyat perlu kepastian, kepercayaan dan keyakinan. Rakyat perlu bukti, bukan janji,” kata Ibas.

Soal tantangan, lanjut Ibas, Indonesia sudah pernah melewatinya. Saat era Presiden SBY, ekonomi Indonesia meroket.

“APBN meningkat, utang dan defisit terjaga, pendapatan rakyat naik dan lain-lain yang too few too mention, termasuk tentang persentase kemiskinan dan pengangguran yang menurun,” ujar Ibas.

Meskipun kini berada di luar pemerintahan, lanjut Ibas, Demokrat tetap hadir  memberikan koreksi, kritik dan solusi. “Supaya negara tidak jatuh ke jurang,” imbuhnya.

Kendati demikian, ia mengatakan Demokrat saat ini tidak dalam posisi menyalahkan pihak manapun. Ia juga sepakat, di masa krisis ini seluruh pihak harus bergotong royong dan bersinergi.

Namun, Ibas berharap Demokrat tetap cerdas dan tepat dalam berpikir. “Ketika benar kita katakan benar, ketika tidak kita katakan tidak. Biar ruang demokrasi ini tetap terjaga, jadikanlah Partai Demokrat tetap hadir agar demokrasi kita lebih berwarna dan terjaga,” imbuhnya.

Komentar