oleh

Berikut 4 Rekomendasi Film Pendek Karya Anak Bangsa

Dunia perfilman Indonesia sebenarnya tidak kalah keren dan bagus dari film-film diluar sana, hanya saja mungkin belum terlalu banyak terekspos di media sehingga popularitasnya belum terlalu terlihat. Mungkin Anda bisa menonton beberapa film pendek karya anak bangsa ini. Berikut kami merekomendasikan beberapa film pendek yang mungkin bisa menemani waktu luang Anda.

  1. Lemantun (2014)

Film Lemantun ini berkisah tentang sebuah keluarga yang terdiri dari ibu dan 5 orang anaknya yaitu, Eko, Dwi, Tri, Yuni, dan Anto. Sang ibu ingin memberikan warisan kepada anak-anaknya berupa sebuah lemari. Setiap anak diberikan satu buah lemari yang telah ia persiapkan sejak anak-anak sang ibu lahir. Bagi ke empat anaknya yang lain hal ini bukanlah masalah besar kerena mereka telah sampai dengan kendaraan merek masing-masing baik sewaan maupun kendaraan pribadi, namun lain halnya dengan Tri, sang anak tengah yang bahkan belum memiliki rumah sendiri. Film ini akan membawa penonton kedalam suasana melankolis yang kuat. Film ini di sutradarai oleh Wregas Bhanuteja yang diangkat dari kisah nyata dan telah dimodifikasi oleh sang sutradara dengan gayanya. Lemantun telah meraih penghargaan menjadi film pendek terbaik di XXI Short Film Festival 2015 dan film pendek terbaik di Apresiasi Film Indonesia 2015. Mungkin anda penasaran dengan film Lemantun ini, Anda bisa langsung menontonnya di YouTube.

  1. Tilik (2018)

Tilik adalah sebuah film pendek yang diproduksi oleh Ravacana Films dan disutradarai oleh Wahyu Agung Presetyo. Tilik berkisah tentang serombongan ibu-ibu yang pergi menggunakan truk untuk menjenguk Bu Lurah mereka yang dirawat di rumah sakit. Dalam perjalanan menuju rumah sakit, seperti ibu-ibu pada umumnya yang senang berbincang-bincang untuk menghilangka jenuh selama perjalanan. Di atas truk ibu-ibu bertukar gosip dan berujung persilatan lidah antar ibu ibu, sosok Bu Tejo menjadi sorotan, pasalnya ia menjadi biang gosip dan paling update dengan isu hangat dan terkini.  Film pendek ini merupakan pemenang Piala Maya 2018 (Film Pendek Terpilih), Official Selection Jogja-Netpac Asian Film Festival 2018, dan Official Selection World Cinema Amsterdam 2019. Pada peringatan hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus lalu, film ini untuk pertama kalinya diunggah ke Youtube dan dipromosikan secara luas.

  1. Lanang (2017)

Satu lagi film yang disutradarai oleh Wahyu Agung Prasetyo. Film ini mampu menarik perhatian banyak orang karena kisah yang begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari. Lanang berkisah tentang 4 anak laki-laki SD yang baru saja pulang sekolah. Keempatnya pulang bersama menaiki satu becak, obrolan terjadi di atas becak dan mengalir begitu cepat. Dalam tradisi bahasa Jawa ada tingkatan bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi, untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua mengguanakan karma inggil dan menngunakan ngoko ketia berbicara de ngan teman sebaya. Namun seiring berjalannya waktu, budaya serupa tergilas oleh perkembangan zaman. Hal ini juga yang sisinggung oleh sang sutradara.

  1. Selamat pagi

Film ini diproduksi oleh Rapi Films & Kepompong Gendut dan disutradarai oleh Lucky Kuswandi. Selamat Pagi, Malam berkisah tentang kehidupan malam kota Jakarta. Film ini dikemas dengan unik dengan penuturan multiplot dari 3 perempuan ibukota yang kehidupan malamnya saling bersinggungan. Dalam penuturan yang berbeda ini, Selamat Pagi, Malam memberikan 3 sudut pandang yang berbeda tentang kota Jakarta. 3 tokoh utama ini yaitu, Indri, Ci Surya, dan Gia. Indri adalah seorang towel girl di sebuah gym yang mendambakan hidup mewah, ia berusaha keras untuk mengupgrade hidupnya dengan mencari pasangan kaya raya dari media sosial. Ci Surya, seorang wanita paruh baya kaya raya yang kini menjanda. Kehidupannya terusik setelah suaminya meninggal dan mengetahui bahwa suaminya memiliki selingkuhan seorang penyanyi klub malam. Gia, seorang gadis yang begitu asing dengan kehidupan Jakarta, karena ia baru pulang dari study filmnya di New York. Gia dihadapkan dengan standar yang berbeda seperti, kulit sebaiknya putih, ponsel sebaiknya dua, salah satunya harus blackberry, busana nongkrong harus semi formal, dan sebagainya. Seperti dikutip dalam Cinemapoetica adegan terkuat film disajikan menjelang akhir film, semua tokoh mendapat resolusi dalam kesyahduan nada: Naomi dan Gia harus menghadapi ketidakpastian masa depan mereka; Indri dan Faisal bukanlah kisah penuh gula seperti yang terlihat; Ci Surya dan Sofia ternyata sama-sama kosong dan sepi. Mereka semua tunduk pada aturan main Jakarta, yang entah dibuat oleh siapa. Kaya atau tidak, minoritas atau bukan, semua merasa hilang di tengah Jakarta. (na/mg)

Komentar

Loading...