Rizieq Shihab Tawarkan Rekonsiliasi: Tapi Hentikan Dulu dong Kriminalisasi Ulama dan Aktivis

LIPUTAN.CO.ID – Petinggi Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab siap menerima rekonsiliasi jika ditawarkan pemerintah. Asalkan, pemerintah mau berhenti melakukan kriminalisasi terhadap ulama dan aktivis.

“Kami siap rekonsiliasi, tapi stop dulu kriminalisasi ulama, stop dulu kriminalisasi para aktivisnya. Tunjukkan dulu niat baik,” ujar Rizieq Shihab dilansir akun YouTube Front TV, Kamis, (12/11).

Habib Rizieq mengatakan, pihaknya siap memberikan solusi terbaik terhadap bangsa dan ummat. Dia mengatakan, pemerintah tinggal tunjukan tempat untuk dialog rekonsiliasi.

“Buka dulu pintu dialognya, baru rekonsiliasi. Dialog itu penting, ga boleh penguasa itu tangkap kanan-kiri, kriminalisasi,” ujar Rizieq.

Rizieq mengatakan, pihaknya akan membahas sejumlah penangkapan para aktivis, para pengkritis. Rizieq menyebut Abu Bakar Ba’asyir hingga aktivis KAMI, Jumhur Hidayat.

“Bebaskan buruh, bebaskan mahasiswa, bebaskan para pendemo, bebaskan para pelajar yang saat ini memenuhi ruang-ruang tahanan. Bebaskan dulu mereka, ke depannya kita dialog,” ujarnya.

“Apa yang pemerintah mau dari umat, dari habaib, sampaikan, kami siap mendengarkan. Anda mau bicara 3 jam, 4 jam, 5 jam, 12 jam silakan, kami dengar. Tapi setelah anda bicara dengerin juga yang kita bicara (sampaikan),” kata Rizieq menambahkan.

Rizieq mengklaim sudah mengajukannya rekonsiliasi ke pihak pemerintah sejak tahun 2017. Saat itu melalui Aksi 121 pada tanggal 12 Januari 2018 di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Rizieq telah menawarkan undangan ke pemerintah soal duduk bersama ulama dan habait.

Namun saat itu pihak pemerintah enggan datang. Malah hasilnya, kata Rizieq, berujung pada pelaporan terhadap dirinya di beberapa kantor polisi. Ia menyebut aksi ini sebagai kriminalisasi ulama. (atoli) 

Komentar