Jakarta – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Provinsi DKI Jakarta menggelar survei untuk mengetahui sikap orang tua murid terhadap rencana pemberlakuan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) pada Januari 2021 nanti.
Dari 23 ribu repondens menurut Ketua PGRI Provinsi DKI Jakarta DR Adi Dasmin, mayoritas setuju PTM diberlakukan kepada peserta didik sekolah dasar (SD). “Untuk pelajar SMP, SMA/ SMK, mayoritas orang tua tidak setuju pembelajaran tatap muka,” kata Adi, dalam Dialektika Demokrasi bertajuk “Pro-kontra Sekolah Tatap Muka Di Tengah Pandemi”, di Media Center DPR RI, Gedung Nusantara III, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (3/12/2020).
Mayoritas alasan orang setuju PTM di tingkat SD lanjut Adi, karena para orang tua tidak mampu lagi putra-putrinya belajar dari rumah.
“Jadi para orang tua menyerah mungkin karena materi pembelajaran di sekolah yang sangat banyak dan sebagian dari materi itu tidak dipahami oleh orang tua. Sudah, kamu sekolah tatap muka saja, karena ketidakmampuan orang tua mendapinginya,” tegas Adi.
Kedua lanjutnya, para orang tua tidak menguasai tekhnologi informasi yang sedang digunakan oleh peserta didik sekaligus tidak pula menguasai konsep teknologi itu.
“Kemudian orang tua tidak mampu membimbing dan mengarahkan putra-putrinya untuk belajar karena sarana dan prasarana nya tidak mencukupi. Misalnya, di rumah ada tiga anak yang bersekolah, sedangkan alat-alatnya itu tidak mencukupi untuk tiga orang sehingga jadi rebutan,” ungkapnya.
Sedangkan dari sisi pelajar setuju sekolah tatap muka dimulai kata Adi, karena alasan ingin mengenal teman-temannya di sekolah karena sudah berapa bulan mereka bersekolah pembelajaran jauh jauh (PJJ) tapi tidak pernah mengenal temannya.
Selain itu, juga karena ingin mengenal guru dan pegawai di sekolah, lingkungan sekolah. “Sekolah saya itu seperti apa sih, begitu kira-kira, ini anak-anak ingin sekali itu,” ungkapnya.







Komentar