oleh

Nono Sampono Ungkap Pentingnya Pelabuhan Terintegrasi di Provinsi Maluku

Jakarta – Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 21 Tahun 2018 tentang Strategi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal. Salah satu daerah tertinggal itu menurut Wakil Ketua DPD RI Nono Sampono adalah Provinsi Maluku.

“Melalui berbagai pembangunan yang dilakukan Pemerintah, diharapkan dapat menurunkan kesenjangan intrawilayah di Kepulauan Maluku serta mendorong Maluku sebagai lumbung ikan nasional,” kata Sampono, dalam rilisnya, Senin, (21/2/2021).

Untuk mendukung hal tersebut, Senator dari daerah pemilihan Provinsi Maluku itu mendorong pemerintah untuk menyiapkan pembangunan pelabuhan yang terintegrasi dengan pusat kegiatan perikanan yang akan menjadi Kawasan Terpadu Pelabuhan Perikanan di Provinsi Maluku.

Menurut Sampono, daerah Tulehu, Ambon, adalah salah satu alternatif lokasi yang baik untuk pembangunan pelaburan baru, karena kondisi perairan yang tenang dan memiliki kedalaman yang baik.

Dia tegaskan, pilihan lokasi di Tulehu berdasarkan studi yang dilakukan Kementerian Perhubungan. Selain itu juga preferensi studi yang juga dilakukan World Bank.

“Kawasan Terpadu Pelabuhan Perikanan ini akan dibangun dengan pembiayaan APBN. Selanjutnya, pembangunan infrastruktur tambahan akan dilakukan dengan skema Kerja sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU),” ujarnya.

Sebuah pelabuhan terintegrasi, menurut Sampono, harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung, antara lain pembangkit listrik mandiri, akses jalan yang memadai dan alur pelayaran yang baik. Pelabuhan tersebut juga harus didesain agar bisa ekspansi jika dibutuhkan.

“Pembangunan pelabuhan harus dipikirkan pengembangan jangka panjang, hingga 50 tahun ke depan, sehingga tidak mengalami hambatan jika melakukan ekspansi,” kata Sampono.

Dia juga menegaskan, pembangunan pelabuhan terintegrasi ini diharapkan dapat mensejahterahkan rakyat Maluku baik melalui penyerapan tenaga kerja secara langsung maupun lapangan kerja yang tercipta dari dampak aktivitas bisnis.

Terlebih lanjut Nono, dengan adanya sistem lumbung ikan nasional terintegrasi ini juga diharapkan naiknya harga ikan di produsen (nelayan) dan turunnya harga ikan di konsumen (khususnya Pulau Jawa) sebagai pasar terbesar dalam negeri.

Selain itu, begitu banyaknya kehidupan masyarakat yang bergantung pada sektor perikanan, maka pembangunan pelabuhan perikanan terintegrasi menurutnya, harus mengakomodir kepentingan nelayan tradisional dan skala kecil.

“Oleh karena itu, DPD RI mendorong sinergi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dengan Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perhubungan untuk melakukan optimalisasi sistem logistik ikan di Maluku yang dimulai dari desa-desa pesisir ke pelabuhan perikanan dan masuk ke pelabuhan perikanan terintegrasi di Ambon, sehingga dari Ambon bisa ekspor ke luar negeri atau menuju ke konsumen dalam negeri serta untuk konsumsi di Maluku,” saran mantan Kabasarnas ini.

Dijelaskannya, saat ini, Provinsi Maluku telah memiliki sejumlah infrastruktur transportasi seperti 12 bandara dengan delapan rute perintis, dan tujuh rute komersial. Pada angkutan penyeberangan, terdapat total 31 pelabuhan penyeberangan yang beroperasi di Provinsi Maluku dengan 66 lintas penyeberangan (empat lintas komersial, 62 lintas perintis) yang dilayani 25 unit kapal (delapan unit komersial, 17 unit perintis). Pada angkutan laut, terdapat tiga trayek tol Laut yang melayani Provinsi Maluku dengan sembilan pelabuhan singgah, yaitu Kisar, Moa, Larat, Tepa, Namrole, Namlea, Saumlaki, Dobo, dan Elat.

Komentar