oleh

Senator Kalteng Ajak Masyarakat Sulap Sampah Plastik Jadi Kerajinan Ecobrick

Jakarta – Wakil Ketua Komite III DPD RI, H. Muhammad Rakhman, S.E., S.T., mengajak masyarakat mengolah sampah plastik menjadi kerajinan ecobrick.

Menurutnya, selain dapat mengurangi volume sampah yang ada di Indonesia, kerajinan ecobrick juga bisa bermanfaat dan bernilai ekonomis karena bisa menghasilkan uang.

“Sampah merupakan PR (pekerjaan rumah) bangsa kita. Sampah yang menjadi PR bangsa dan dunia harus mulai diatasi dengan kerja kreatif dan menularkan pada yang lainnya,” ujar Rakhman, dalam keterangannya, Kamis (4/3/2021).

Dia jelaskan, metode ecobrick merupakan karya seni dengan mengolah sampah botol plastik itu cukup bagus. Apalagi, jika sampai sampah yang menjadi PR bangsa ini bisa menjadi rupiah. Itu sangat luar biasa.

Tekhnisnya lanjut dia, mengolah sampah dari botol plastik yang diisi padat dengan limbah non-biological untuk membuat blok bangunan dan dapat digunakan kembali. Eko-batu bata ini adalah teknologi berbasis kolaborasi yang menyediakan solusi limbah padat tanpa biaya untuk individu, rumah tangga, sekolah, dan masyarakat.

Istilah lain dari Ecobrick lanjutnya, juga dikenal sebagai Bottle Brick atau Ecoladrillo. Pengolahan limbah lokal ini disebut Ecobrick oleh gerakan masyarakat yang berkembang di seluruh dunia. Ecobrick merupakan ide-ide kreatif yang harus dikerjakan secara berkelompok dan memiliki keahlian yang khusus. Ini perlu diberdayakan oleh dinas dan masyarakat.

“Sampah bukan musuh kita. Sampah menjadi masalah karena merupakan ancaman yang potensial sehingga mengganggu kehidupan dan penghidupan bagi makhluk hidup. Namun demikian, seiring pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), sampah juga menjadi peluang usaha,” jelas Rakhman.

Dia mengajak semua pihak menyelesaikan secara bersama. “Sebagai langkah awal mari lakukan pemilahan mulai dari rumah tangga, kemudian Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dan bank sampah dapat diberdayakan dalam pengolahan sampah,” sarannya.

Terkait dengan itu, Senator asal Kalimantan Tengah (Kalteng) itu mengapresiasi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Sampit yang menyulap limbah plastik menjadi sebuah prakarya seni atau kerajinan tangan seperti, jala, ayunan serta gelang.

“Saya sangat mengapresiasi pengolahan sampah yang dilakukan oleh warga binaan Lapas Sampit. Tentu ini sangat membantu pemerintah dalam pengelolaan sampah. Dan mudah-mudahan ini juga bisa menjadi contoh bagi masyarakat agar bisa memanfaatkan sampah untuk menjadi hal-hal yang berguna,” ujarnya.

Rakhman menyebutkan dengan WBP Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Sampit yang memanfaatkan sampah menjadi hasil produk yang bernilai jual, sudah membantu mengurangi beban sampah.

“Sampah menjadi masalah yang pelik di lingkungan kita, karena itu hal ini tidak bisa ditangani sendiri-sendiri, tapi bersama-sama,” imbuhnya.

Diketahui, Indonesia dinyatakan darurat sampah plastik. Bahkan, pada 2019 lalu, Indonesia juga dinyatakan sebagai produsen sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah China.

Data menunjukkan kondisi timbulan sampah di Indonesia saat ini sebanyak 184.000 ton per hari, yang berasal dari 48 persen rumah tangga dan 24 persen pasar tradisional. Sementara 60 persen adalah sampah organik layak kompos, 14 persen sampah plastik, 9 persen kertas.

Di Indonesia setiap tahun terdapat kenaikan jumlah sampah sebesar 5-10 persen. Masyarakat yang kurang sadar akan pentingnya menjaga lingkungan bisa menjadi salah satu faktor meningkatkan sampah yang ada di laut.

Bahkan, tim ilmuwan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) memperkirakan pada 2050 mendatang jumlah limbah plastik akan melebihi jumlah ikan di perairan Indonesia.

Hal ini diperkuat dengan ditemukannya mikroplastik dalam tubuh ikan dalam sebuah penelitian yang diselenggarakan di 13 titik perairan di Indonesia. Jika kondisi ini terus terjadi, bukan tidak mungkin kelak manusia akan memakan limbah plastiknya sendiri.

 

Komentar