Sosialisasi Empat Pilar, Maria Goreti: Fanatisme Sempit Merongrong Nilai-Nilai Pancasila

Kubu Raya – Setelah menyusuri jalan tanah sekitar empat jam dari basecamp perusahaan sawit, rombongan anggota MPR RI dari Kelompok DPD RI, Maria Goreti akhirnya sampai di Dusun Tamang Tengah, Desa Gunung Tamang, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kaliman Barat.

Kehadiran Senator dari daerah pemilihan Kalimantan Barat itu di Dusun Tengah, pada Jumat (26/3/2021), untuk memberikan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI kepada masyarakat setempat, di Gereja Stasi St. Perawan Maria, Paroki Delta Kapuas, Kubu Raya.

“Pendalaman kita bersama terhadap Empat Pilar MPR RI harus terus menerus dibatinkan, dan direfleksikan. Nilai-nilai Pancasila sangat relevan di tengah-tengah situasi bangsa yang sedang kesempitan perspektif dan pemahaman bahwa bangsa ini adaah bangsa yang plural baik dalam hal budaya, etnis, bahasa, dan agama,” kata Maria.

Dikatakannya, fanatisme sempit dimaknai sebagai pandangan atau keyakinan berlebihan terhadap suatu aliran pemikiran baik individu maupun kelompok.

“Ada beberapa alasan mengapa fanatisme sempit itu muncul, antara lain adanya keyakinan bahwa ideologinya adalah satu-satunya kebenaran yang harus dibela; adanya keyakinan bahwa ideologinya paling benar; adanya keyakinan bahwa ideologi yang dianutnya mampu mengantarkan kebahagiaan dunia-akhirat; adanya ketidaktahuan, yakni fanatik yang dasarnya hanya ikatan emosional belaka, sikap ini sering disebut dengan fanatik buta,” ungkap Maria.

Dia ingatkan, fanatisme sempit menjadikan orang sebagai satu-satunya yang paling benar, paling suci, paling murni. Keyakinan yang terlalu berlibahan itu membuat seseorang berpikir bahwa kebenaran adalah milik atau hanya ada dalam diri atau kelompok aliran pemikiran yang dianutnya. Pandangan ini cenderung mengkultuskan kebenaran akan diri dan memutlakkan kesalahan pada orang lain.

“Fanatisme sempit kemudian tidak mengakui atau tidak menerima bahwa ada kebenaran lain selain dirinya, tentu ini sangat bertentangan pluralitas kita sebagai bangsa yang beragam. Kalau demikin, tentu ini merupakan suatu upaya yang kontra-produktif dan mengabaikan nilai-nilai pluralisme,” tegasnya.

Fanatisme ini lanjut Maria, muncul karena ketidaktahuan. Ketidaktahuan adalah ihwal awal munculnya setiap permasalahan. Fanatisme yang muasalnya adalah ketidaktahuan hanya mengedepankan aspek emosi akan melahirkan penilaian yang parsial terhadap setiap pemasalahan yang muncul. Seringkali, hal ini menjadi benih terhadap munculnya permasalahan yang lain.

“Fanatisme sempit mengalami tahap paling ekstrim adalah tindakan teror yang rela mati atas nama keyakinannya, klaimnya. Fanatisme membuat seseorang kehilangan akal sehat dan bertindak irasional,” kata Maria.

Terakhir, Maria mengajak orang muda untuk terus belajar meningkatkan kualitas diri, memperkaya kecakapan hidup sehingga menjadi pribadi-pribadi yang tangguh, memiliki keberpihakan khususnya untuk mereka yang papa, miskin, dan tidak memiliki akses. “Dengan demikian kelak menjadi insan yang peduli terhadap kebaikan dan kesejahteraan bersama. Menjadi pribadi seratus persen Katolik dan seratus persen Indonesia,” imbuhnya.

Komentar