Jakarta – Anggota Komisi VI DPR RI Herman Khaeron mengatakan, sebagai induk perusahaan, PT Pertamina (Persero), harus dapat mengintegrasikan anak-anak perusahaannya, yakni Perusahaan Gas Negara (PGN) dan Marketing Operation Regional (MOR) untuk berpartisipasi dalam pembangunan Jambaran-Tiung Biru (JTB).
Demikian dikatakan Herman, usai pertemuan Panitia Kerja (Panja) BUMN Energi Komisi VI DPR RI dengan PT Pertamina di Kantor Pertamina Building Surabaya, Jawa Timur, Kamis (27/5/2021).
Menurutnya, baik PGN maupun MOR, dan Pertamina sama sekali belum paham mengenai tugasnya dalam core business ini, sehingga penjelasan ketiga pihak tersebut dalam pertemuan ini cenderung tidak komprehensif.
“Sumbernya ada di Jambaran Tiung Biru. PGN harus berbicara semestinya gas sale terkait dengan potensi yang didapatkan dari Tiung Biru. Kemudian bagaimana juga MOR terkait dengan persoalan hasil Tiung Biru, kalau tidak ada hubungannya, apa yang kemudian menjadi kekuatan masing-masing?” tanya Herman.
Menurut politikus Partai Demokrat itu, bisnis sektor gas merupakan tantangan tersendiri ke depan. Sebab, penggunaan elektrifikasi seperti penggunaan alat masak dan alat elektronik sejenis mulai masif, sehingga ada potensi peralihan dari gas menjadi listrik. Otomatis permintaan di hilir tentang gas akan semakin berkurang.
“Kalau kemudian mereka terus merencanakan peningkatan pada sektor hilir, hulu tidak diintegrasikan terhadap pemanfaatan hilir, kemudian sisi lain ada program secara masif dari listrik, tentu ini menjadi tantangan tersendiri,” tegasnya.
Anggota DPR dari daerah Jawa Barat VIII itu menyarankan sebaiknya diciptakan program satu atap, yaitu Pertamina, PGN, dan Patra niaga digabung sebagai unit pengelola bisnis di sektor hilir. “Ini betul-betul harus komprehensif, kalau tidak komprehensif, kami akan menilai darimana ada sinergitas antar-unit ini, jangankan antar BUMN, antar unit saja sudah tidak ada sinergi,” pungkasnya.







Komentar