Politikus NasDem: Tanpa Peningkatan Testing dan Tracing, Penanganan Pandemi Tak Akan Optimal

Liputan.co.id, Jakarta – Ketua Komisi IX DPR RI Felly Estelita Runtuwene mengatakan tanpa peningkatan pengetesan (testing) dan pelacakan (tracing) Covid-19 di masyarakat, maka penanganan pandemi tak akan optimal.

Menurut Felly, kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat mulai dari PSBB pada awal pandemi hingga PPKM Darurat saat ini tidak akan efektif tanpa dibarengi testing dan tracing yang masif tersebut.

“Testing dan tracing mutlak dilakukan. Kami tak henti-hentinya ingatkan pemerintah agar peningkatan testing sebagai prasyarat penanganan pandemi bisa lebih efektif lagi. Kita sudah adakan PPKM, PSBB, dan sebagainya, tapi kalau tidak dibarengi dengan testing dan tracing, saya kira tidak akan maksimal,” kata Felly, dalam webinar bertajuk “Evaluasi PPKM Darurat dalam Perspektif Kesehatan, Sosial, Ekonomi, dan Hukum”, diselenggarakan Badan Keahlian, Sekretariat Jenderal DPR RI, Kamis (29/7/2021).

Felly mengungkap Indonesia hanya melakukan tes kepada 66.807 orang per 1 juta orang, di mana angka tersebut sangat jauh dibandingkan dengan Malaysia yang sudah melakukan tes kepada 417.767 orang per 1 juta orang. Juga dengan Thailand yang melakukan tes sebanyak 116.190 orang per 1 juta orang.

“Kami memantau positivity rate harian dan seminggu terakhir ini, positivity rate khususnya PCR yang terus di atas angka 40 persen bahkan mencapai 45,40 persen per tanggal 27 Juli 2021. Angka ini menunjukkan saat ini ada penularan yang tinggi di masyarakat,” ujarnya.

Politikus Partai NasDem itu menegaskan, Komisi IX DPR RI secara konsisten terus mendesak pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan RI, secara serius meningkatkan testing dan tracing. Felly meminta ada kerja-kerja yang betul terstruktur penanganan pandemi, sehingga kasus Covid-19 tidak berkepanjangan dan ekonomi Indonesia segera pulih.

Felly juga berharap perluasan cakupan testing-tracing juga diimbangi dengan metode lain selain RT-PCR, yaitu metode Nucleic Acid Amplification Test (NAAT) yang juga dapat digunakan untuk mendeteksi RNA Sars Cov-2.

Diketahui, Metode NAAT ini telah termuat dalam panduan tata laksana pemeriksaan Covid-19 yang dikeluarkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat dan Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi.

“Sekali lagi kami sampaikan tanpa peningkatan testing-tracing, maka penanganan pandemi tidak akan optimal. Karena kita tidak mengetahui secara riil jumlah kasus positif dan kebijakan PPKM tidak akan bisa berjalan efektif. Kami juga berharap ada kesadaran masyarakat untuk aktif melakukan hal itu secara berkesinambungan dan konsisten,” pungkasnya.[liputan.co.id]

Komentar