DPD RI Berharap Eksploitasi Hutan Tidak Jadi Pilihan Pendekatan Pemulihan Ekonomi

Liputan.co.id, Jakarta – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia atau DPD RI Sultan B Najamudin mengingatkan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup atau KLHK untuk tidak lagi mengobral izin pengelolaan dan pemanfaatan kawasan hutan kepada pelaku bisnis industri kehutanan.

Memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi pelaku bisnis dalam mengeksploitasi kawasan hutan, kata Sultan, adalah tindakan ceroboh yang tidak seharusnya dilakukan oleh pemerintah.

“Jangan hanya karena pertimbangan meraup dollar, kita seenaknya mengobral izin usaha pemanfaatan hutan yang akan berujung pada praktik deforestasi,” kata Sultan, Jum’at (10/12/2021).

Menurutnya, di era perubahan iklim, pola pengelolaan kawasan hutan dengan pendekatan industri dan mekanisasi dalam mengeksploitasi hasil hutan adalah bentuk kegagapan negara dalam memahami prinsip dari hasil kesepakatan dari setiap rangkaian KTT iklim selama ini. Dan Ini membuktikan bahwa Indonesia belum siap untuk berdiri sejajar dengan negara-negara maju.

Meskipun batasan batas minimal 30 persen hutan telah dihapus oleh UU Ciptaker, namun kata Sultan, segala bentuk eksploitasi hutan harusnya tidak menjadi pilihan pendekatan pemulihan ekonomi nasional oleh pemerintah. “Kami sangat memahami bahwa telah terjadi peningkatan kinerja produksi dan ekspor produk kehutanan selama pandemi, tapi keberadaan industri kehutanan rasanya sudah tidak relevan untuk saat ini,” ungkapnya.

“Kita sudah merasakan dampak ekologisnya. Bahwa deforestasi bertanggungjawab atas hampir semua peristiwa bencana banjir dan tanah longsor yang menimpa banyak kawasan pemukiman penduduk di beberapa daerah selama ini. Dan setiap bentuk perizinan atas pemanfaatan kawasan hutan adalah awal dari tindakan deforestrasi yang menjadi musuh global di era perubahan iklim,” ungkap mantan Wakil Gubernur Bengkulu itu.

Karenanya, Senator Provinsi Bengkulu itu mengingatkan kembali tentang komitmen pemerintah Indonesia di setiap forum KTT Perubahan Iklim bahwa, kehutanan dan pemanfaatan lahan adalah sektor yang paling signifikan dalam pengendalian perubahan iklim. Dan Indonesia juga berjanji akan melanjutkan kebijakan moratorium perizinan pada hutan primer dan lahan gambut pada KTT Paris 2015 lalu.

Diketahui, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya mengingatkan kepada para pelaku usaha di sektor kehutanan agar tidak risau soal Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).

Apalagi, kata Siti, setelah terbitnya keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor 91/PUU-XVIII/2020 tentang Undang Undang Nomor 11 tahun 2020 Cipta Kerja (UUCK). Menurut dia, Presiden Jokowi Widodo sudah memastikan UU Ciptaker tetap berlaku walau ada putusan MK yang menyebut inkonstitusional.[liputan.co.id]

Komentar