Liputan.co.id, Jakarta – Ketua Satgas Covid19 Ikatan Dokter Indonesia atau IDI, Profesor Zubairi Djoerban mengatakan performance Indonesia dalam menangani pandemi Covid19 sangat bagus. Prestasi tersebut menurut Zubair, jangan membuat bangsa Indonesia terlalu euforia.
“Dulu ada yang bilang parah, Indonesia itu paling terburuk, paling cepat 10 tahun baru mampu mengurus pandemi Covid19. Ternyata performanmce Indonesia sangat bagus dalam menangani pandemi. Tentu kita berbangga diri dan bersyukur itu wajib, namun jangan euforia,” kata Zubairi, dalam Dialektika Demokrasi bertajuk “Antisipasi Varian Omicron Jelang Nataru 2022″, di Media Center DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (2/12/2021).
Bersama Zubairi Djoerban, juga ikut sebagai narasumber Wakil Ketua Komisi IX DPR Emanuel Melkiades Laka Lena dan anggota Komisi IX DPR Muchamad Nabil Haroen.
Indikasi lainnya bahwa Indonesia bagus menangani pandemi lanjutnya, jumlah kasus baru sedikit, hanya 372 orang sepanjang November 2021 dan semakin turun lagi. Sedangan yang meninggal juga amat kecil yaitu 16 orang pada 25 November dan sekarang tetap rendah, di samping positivity rate kurang dari 2 persen.
“Jadi intinya kita tidak perlu panik dengan Omicron, namun jangan jemawa atau terlalu euforia,” tegasnya.
Menyikapi berbagai prediksi mengenai kapan gelobang ketiga pandemi Covid19 ini habis di Indonesia, dulu teorinya ada yang bilang Desember 2021, hampir pasti tahun 2021 tidak.
“Apa awal tahun 2022, tergantung kita juga, kemudian kalau April dan Mei, ya mungkin terjadi. Tetapi, apakah mungkin tidak pernah datang gelombang ketiga, itu yang kita harapkan dan kita doakan. Jadi tergantung kita semua, jadi mungkin kita langsung endemi tanpa melalui gelombang ketiga lagi. Saya ulangi, masih mungkin, tapi tidak 100 persen pasti. Kuncinya tergantung masyarakat, pemerintah, tergantung teman-teman media seberapa cepat kita mengedukasi masyarakat,” ujarnya.
Kata kunci yang sangat penting untuk hal ini adalah memonitor dan evaluasi. “Jadi semua kebijakan harus selalu di monitor dan selalu di evaluasi. Kalau ada lonjakan kasus baru ke atas harus segera diganti lebih cepat,” sarannya.
Jadi jangan mengundang omicron masuk, karena ini masalah prilaku, jadi masalah masuknya covid eindonesia tergantung dari prilaku masyarakat, prilaku kenbijakan pemerintah dan prilaku virus.
Lebih lanjut, Zubairi juga mengungkap cara untuk mencegah agar Omicron tidak masuk ke Indonesia.
“Jangan sampai kita mengundang virus ini, diantaranya dengan cakupan vaksinasi, stop libur panjang, stop bridging, klaster tatap muka dimana tatap muka sekolah sudah muncul saat ini. Kemudian kita harus mengawasi tempat wisata, jangan sampai ada banyak kerumunan, diperketat syarat perjalanan khususnya di alat transportasi umum,” ujarnya.
Selain itu, untuk menghentikan penularan, memakai masker, jaga jarak dan menghindari kerumunan serta menjaga ventilasi ruangan menjadi sangat utama untuk dilakukan secara terus menerus.
Demikian juga dengan vaksinasi, menurut Zubairi harus semakin dipercepat karena yang diiringi dengan menambah produksi vaksin. “Jadi pertemuan saat ini dengan temen-temen media sangat penting untuk edukasi dan redukasi kemasyarakat agar masyarakat semakin paham dan semakin cepat-cepat ingin vaksinasi. Intinya segera vaksin dengan vaksin yang ada di dekat anda walaupun ada varian baru. Berikutnya ada cara untuk mencegah dengan vaksinasi booster, ini penting sekali karena terbukti efektif di banyak negara,” pungkasnya.[liputan.co.id]







Komentar