Jadikan sebagai Cek and Balance, Erick Bermedsos Sebelum Jadi Pejabat Publik

JAKARTA – Penomena pejabat menggunakan media sosial (Medsos) sudah tak mengherankan, karena hampir seluruh pejabat publik di Indonesia memiliki Medsos pribadi, dari Presiden hingga Ketua RT.

Hal itu pun dilakukan oleh Menteri BUMN Erick Thohir. Menariknya, Erick Thohir menggunakan Medsos sebelum dirinya menjabat pejabat publik seperti yang lain, tetapi digunakan di tahun 2014 saat dirinya menjabat Presiden Interminal (klub bola profesional Italia).

“Alhamdulillah. Jadi gini kalau dilihat sebenarnya kan saya mulai Ber Medsos itu 2014 waktu jadi Presiden intermilan, bukan menjadi pejabat publik tapi merasa pejabat publik karena fans,” kata Erick Thohir saat menghadiri acara talk show Mata Nazwa kemarin.

Menurut Erick Thohir, dirinya menggunakan Medsos untuk mengontrol atau menjaga keseimbangan antara lembaga-lembaga negara dan masyarakat, dan hal ini seperti yang dialami dirinya saat masih di Intermilan, ketika salah dibuly dan kalau di bola kalah di maki dan menang disanjung.

“Disitulah mulai, memang saya setuju sama mas Anies ini bagian dari cek and balance, ya sama ketika punya klub bola ya nasibnya sama, menang dipuji puji, begitu kalah di maki maki. Dan perasaan itu kalau di bola seperti kalah gak bisa tidur, seri kenapa gak bisa menang, menang senyum-senyum sendiri jadi sama di Medos itu,” ucapnya.

Saat pembawa acara Nazwa Shihab menyinggung soal aksi Erick Thohir yang meminta di toilet umum di SPBU grati. Lelaki berdarah Lampung ini kemudian menjelaskan awal mula kejadian dirinya meminta toilet umum di SPBU di bawah BUMN gratis.

“Gak, waktu itu kan dari pesantren Genggong, mungkin Cak Imin hafal waktu itu, disitu disuruh bicara dengan santri-santri mengenai ekonomi syariah lalu saya mampir mau ke PTPN12, karena waktu itu PTPN12 mau ekspor barangnya dan kebelet kencing mau Kemana lagi, ya mampir disitu (toilet SPBU-red),” jelasnya.

Saat mengetahui toilet umum di SPBU berbayar, Erick Thohir mengaku kaget karena toilet yang berada di SPBU milik BUMN harus bayar. Buat dia harus gratis atau seikhlasnya, bukan dipatok dengan harga tertentu seperti yang banyak di toilet-toilet umum saat ini.

“Cuman waktu itu saya agak tergelitik karena sebetulnya fasilitas dalam tanda kutip BUMN. Nah disitu tiba-tiba ada yang harus, bukan seikhlasnya tapi harus bayar. Saya dengan (gak ada uang di kantong) yes, kedua no,” ungkapnya.

“Dalam arti begini, kan kalau kita seikhlasnya itu sesuatu yang bisa dilakukan, tapi kalau dipatok patok di fasilitas publik. Apalagi punya BUMN. Di AirPort gratis, kereta api gratis, nah saya cuman lihat ini sesuatu yang memberatkan,” tutupnya.

Seperti diketahui, Medsos seperti instagram, facebook, twitter dan YouTube kini menjadi wadah yang tepat buat semua orang, terkhusus buat pejabat publik dimana mereka bisa berinteraksi dengan masyarakat tanpa dibatasi oleh waktu atau protokoler yang ketat. Masyarakat juga dengan leluasa menyampaikan permasalahan yang dihadapi oleh pejabat publik tersebut. (***)

Komentar