JAKARTA – PT Pertamina (Persero) saat ini tidak hanya fokus pada bisnis Bahan Bakar Minyak (BBM), tetapi juga mulai melebarkan sayapnya. Pertamina kini siapkan untuk masuk dalam bisnis petrochemical.
Menteri BUMN Erick Thohir memastikan bisnis baru Pertamina itu akan berjalan. Pasalnya, Indonesia tertinggal dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand yang lebih dulu menggarap bahan kimia yang diperoleh dari bahan bakar fosil tersebut.
Menanggapi rencana besar Pertamina ini, Ketua Komisi VI DPR RI Faizol Riza mengakui Pertamina saat ini memiliki bahan baku yang sangat cukup untuk mengembangkan produk petro chemical, namun perlu ada perhitungan secara cermat.
“Ya memang pertamina nemiliki bahan baku yang sangat cukup untuk mengembangkan produk produk petro chemical. Tetapi mungkin perlu dihitung secara cermat apakah produk produk itu yang sekarang kita impor banyak salah satunya metanol itu dibutuhkan industri dalam negeri kita atau memungkinkan untuk memasok pasar luar,” kata Faizol Riza saat dikonfirmasi, Rabu (5/1).
Menurut politisi PKB ini, langkah Pertamina ini sangat baik namun perlu melihat keseimbangan dalam bisnis ke depan, karena ekonomi bangsa saat ini terpukul dengan pandemi Covid-19, hingga ada kekhawatiran inflasi akan meningkat.
“Terus terang kita perlu melihat keseimbangan dalam bisnis ke depan ekonomi indonesia kedepan setelah dua tahun lebih kita sleuruh bangsa ini mengalami pandemi sektor riil oraktis berhenti dan ada kekhawatira inflasi akan meningkat,” ucapnya.
“Kalau inflasi meningkat, daya beli masyarakat menurun dan kalau menurun maka produk-produk manufaktur mungkin tidak terbeli juga. Nah kalau misalnya priduk-produk itu yang disebut sebagai kelanjutan dari bahan baku petro chemical tadi, apakah tepat untuk diproduksi hari ini,” tambahnya.
Dilanjutkan Faizol, langkah Pertamina mengembangkan petro chemical ini akan berjalan baik jika bahan baku produk Pertamina sendiri bisa disimpan dan bisa dimonotaise, hingga tidak mengakibatkan kerugian karena tidak terserap oleh pasar.
“Kecuali ada strategi lain di mana produksi bahan baku yang merupakan kelanjutan dari bahan baku produk produk pertamina ini bisa disimpan dan bisa di monotaise. Sehingga tidak mengakibatka kerugian akibat dari produksi yang tidak terserap oleh pasar,” jelasnya.
Anak buah Muhaimin Iskandar ini menyadari betul, Indonesia masih membutuhkan bahan baku obat karena sejauh ini Indonesia masih bergantung pada impor, dan langkah Erick Thohir untuk mengembangkan petro chemical sangat tepat.
“Kalau bahan baku obat misalnya memang kita sangat membutuhkan dan itu hanya bisa disediakan selama ini melalui bahan baku impor bisa kita isi, memang akan sangat baik buat produksi dalam negeri,” akuinya.
“Tapi sekali lagi mohon ditimbang dengan baik rencana besar ini suoaya tidak salah sasaran,” tutupnya.
Diketahui, saat ini Presiden Joko Widodo (Jokowi) melalui Kementerian BUMN telah menugaskan kepada Pertamina untuk menyiapkan sejumlah langkah bisnis di sektor tersebut.
“Saya rasa ini Ibu Nicke (Direktur Utama), Pertamina sedang ditugaskan. Adalah membangun petrochemical yang selama ini Indonesia gak punya, itu Thailand punya, Singapura punya, Malaysia punya,” ujar Erick dalam satu kesempatan.
Erick juga memastikan, perluasan bisnis Pertamina mampu mengurangi beban Indonesia terhadap baku obat maupun bahan baju-bajuan yang saat ini masih di impor. (RBA)







Komentar