BLT UMKM Cuma Rp600 Ribu, Sultan: Pemerintah Jangan Setengah Hati Perbaiki Fiskal UMKM

LIPUTAN.CO.ID, Jakarta – Pemerintah mengalokasikan anggaran Rp455 triliun untuk Program Pemulihan Ekonomi Nasional atau PEN pada 2022. Salah satu targetnya adalah penguatan ekonomi dengan alokasi anggaran Rp178,3 triliun dari sebelumnya Rp141,42 triliun.

Meski alokasi anggaran Rp178,3 triliun, kata Wakil Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin, bantuan langsung tuna atau BLT UMKM 2022, hanya didistribusikan kepada sekitar 2,76 juta Usaha ultra Mikro senilai Rp600.000 per unit usaha pada Februari 2022 ini.

Melihat besaran BLT UMKM, Sultan meminta Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Perekonomian untuk tidak setengah hati memberikan treatment fiskal kepada Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM.

“Kami menghargai dan apresiasi kinerja pemerintah yang mampu mengendalikan stabilitas ekonomi nasional di masa pandemi. Meski pun secara mikro, kita belum melihat peningkatan produktivitas Usaha Mikro Kecil yang signifikan hingga akhir tahun lalu akibat rendahnya akses keuangan UMK yang bersumber dari dana PEN,” kata Sultan, dalam rilisnya, Kamis (17/2/2022).

Menurutnya, inisiatif memberikan insentif modal atau yang disebut dengan bantuan Sosial kepada kelompok usaha ultra mikro tidak akan memiliki dampak ekonomi yang berkelanjutan, kecuali hanya berguna dalam menindak daya beli masyarakat.

“Sulit untuk tidak menyebut agenda pemulihan ekonomi ini sebagai skenario fiskal yang disorientasi. Terobosan kebijakan yang menyebabkan UMK kita sulit produktif, berkembang dan bersaing,” ujarnya.

Dalam upaya pemulihan ekonomi, lanjut mantan Ketua HIPMI Bengkulu itu, usaha mikro yang jumlah mencapai 60-an juta saat ini lebih membutuhkan insentif fiskal yang progressif dan ekosistem bisnis yang dinamis berbasis digital. Ekosistem UMK yang kolaboratif dan saling gotong-royong.

“Dengan kata lain, akses modal murah seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) apalagi BLT yang nilainya ratusan ribu tidak cukup untuk mengakselerasi produktifitas UMK. Meskipun itu sangat berarti bagi masyarakat kecil untuk memenuhi kebutuhan harian.

Selanjutnya, mantan Wakil Gubernur Bengkulu itu menjelaskan bahwa agenda yang harus dibereskan terlebih dulu adalah persoalan data base dan sinergi pembina UMKM untuk menghindari tumpang-tindih peran dan ketidakefisienan biaya.

“Kita ingin pemerintah baik pusat dan daerah berkolaborasi membangun iklim usaha yang spesifik menyasar kelompok Usaha Mikro dan Kecil dalam upaya pemulihan ekonomi, bukan sekedar memberikan BLT, tapi lebih pada insentif fiskal yang ramah dan ketersedian pasar yang terintegrasi dan inklusif,” pungkasnya.

Sebelumnya, pemerintah meningkatkan dana PEN menjadi Rp455,62 triliun pada 2022 yang diperuntukkan bagi sektor kesehatan, perlindungan sosial, dan fasilitas fiskal untuk beberapa sektor yang dibagi ke dalam dua klaster. Pertama klaster penanganan kesehatan senilai Rp122,5 triliun, dari sebelumnya Rp117,87 triliun.

Klaster kedua adalah perlindungan sosial (Perlinsos) dari Rp154,76 triliun menjadi Rp 154,8 triliun. Sementara klaster penguatan ekonomi menjadi Rp178,3 triliun dari Rp141,42 triliun.[liputan.co.id]

Komentar