LIPUTAN.CO.ID, Serang – Panitia Khusus atau Pansus PCR DPD RI dipimpin Fahira Idris melakukan kunjungan kerja atau Kunker ke Provinsi Banten, Kamis (10/2/2022).
Kedatangan Pansus PCR DPD RI di Banten diterima oleh jajaran Pemerintah Provinsi Banten, dan semua pihak terkait dengan tes PCR, antara lain Dinas Kesehatan, perwakilan RSUD, perwakilan rumah sakit swasta, Disperindag, serta perwakilan laboratorium swasta.
“Pansus PCR DPD RI dibentuk karena kuatnya desakan masyarakat terhadap kami selaku wakilnya di Parlemen. Masyarakat menilai kebijakan pemerintah tentang PCR tidak transparan dan kontraproduktif dengan upaya pemberantasan Covid-19 di Indonesia,” kata Fahira Idris.
Fahmi Idris mengungkap, anggota Pansus sengaja memilih Provinsi Banten untuk dikunjungi dan diajak berdiskusi, karena Banten merupakan pintu masuk bagi kedatangan orang dari luar negeri.
“Ini artinya, semua varian Covid-19 terlebih dahulu masuk melalui Provinsi Banten sebelum tersebar luas ke seluruh negeri. Oleh karena itu, kami yakin Banten merupakan salah satu kawasan yang paling berkepentingan dengan tes PCR. Setidaknya bagi yang akan terbang melalui Bandara Soekarno-Hatta,” imbuhnya.
Asisten Daerah I, Septo Kalnadi, mewakili Pemprov Banten menyatakan menyambut baik kunjungan kerja Pansus PCR DPD RI.
“Saat ini kondisi Banten sebenarnya sedang kurang kondusif. Grafik penularan varian Omicron mengalami tren peningkatan. Sekedar informasi, 26 staf yang bekerja di gedung ini terkonfirmasi positif. Sebenarnya ingin kami lockdown. Namun karena pertimbangan tertentu, akhirnya kami putuskan tidak lockdown,” ujar Kalnadi, di Ruang Rapat Sekretariat Daerah Provinsi Banten.
Lebih lanjut, Kalnadi meminta semua narasumber yang diundang untuk menyajikan laporan dan paparan kepada Anggota Pansus PCR DPD RI.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten dr. Hj Ati Pramudji Hastuti, MARS, mengawali paparannya dengan menyajikan data terbaru penularan Covid-19 di Provinsi Banten.
“Angka penularan di Kota Tangerang dan Tangerang Selatan memang tinggi karena secara geografis berbatasan langsung dengan Jakarta. Tingkat interaksi dan mobilitas warga di dua kawasan itu memang agak tinggi jika dibandingkan dengan kabupaten atau kota yang lain,” ujar Ati.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Banten, Babar Suharso mengungkapkan fakta unik tentang oksigen medis.
“Mungkin Bapak Ibu anggota Pansus belum tahu bahwa produsen oksigen medis terbesar di Indonesia ada di Banten. Oleh karena itu, ketika sejumlah daerah mengalami kelangkaan oksigen beberapa waktu lalu, pasokan oksigen ke semua rumah sakit dan fasilitas kesehatan di Provinsi Banten tetap aman,” ungkap Babar Suharso.[liputan.co.id]







Komentar