LIPUTAN.CO.ID- Anggota Komisi IV DPR RI, Saadiah Uluputty menanyakan janji pemerintah terkait pembangunan Ambon New Port untuk mendukung Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional (LIN).
Adapun Ambon New Port kabarnya batal dibangun. Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono beralasan, tidak ada anggaran untuk pembangunan Ambon New Port.
Saadiah Uluputty menilai, alasan tidak ada anggaran sangat tidak masuk akal dan tidak adil. Dia menilai pemerintah pusat selama ini telah menipu masyarakat Maluku.
“Kalau alasan tidak ada uang, bagi kami tidak adil. Benar-benar kami ditipu, pembohongan ini. Saya tidak bisa terima (alasan itu) di sini,” tegas Saadiah dalam rapat kerja bersama Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono di Senayan pada Rabu 23 Maret 2022 kemarin.
Saadiah mengatakan, dia sebagai masyarakat Maluku tidak terima alasan ketidak ada anggaran untuk membangun Ambon New Port.
Sebab, itu adalah janji Presiden Jokowi dan Menteri Luhut Binsar Pandjaitan yang sudah berulang kali ke Maluku membicarakan janji tersebut.
“Tidak boleh ada alasan tidak ada duit tidak ada uang. Ini soal janji Presiden yang wara wiri ke sana dengan beberapa menteri ke sana. Saya tidak bisa ambil terima kaya begini,” kata Saadiah.
Politikus PKS dapil Maluku ini menyebut, pemerintah bisa membangun kereta cepat di Bandung, membangun Ibu Kota Negara. Tetapi ketika janji pemerintah untuk Ambon New Port, pemerintah beralasan tidak ada anggaran. Padahal, kontribusi ikan di Maluku untuk negara sebesar 37 persen.
“Bisa bangun kereta cepat di Bandung. Bisa bangun Ibu Kota Negara. Lah ini laut kami punya kontribusi busi tertinggi 37 persen untuk negara. Kalau alasan tidak ada uang, bagi kami ini tidak adil,” katanya.
Saadiah mencatat ada tiga Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) yang berada di dalam Provinsi Maluku, yakni WPP-714, WPP-715, dan WPP-718.
Maluku memiliki potensi tangkapan ikan sebesar 4,7 juta ton per tahun atau 37% dari total nasional. Namun, saat ini masyarakat Maluku baru dapat menjaring 543 ribu ton ikan per tahun.
“Maluku ini kami orang yang paling baik se Indonesia. Tidak pernah bilang mau kibarkan bendera,” kata Saadiah.
“Tidak pernah bilang mau merdeka. Kalau hari ini tidak ada uang. Waduh, mana Presiden itu. Mana menteri Marves itu. Benar-benar kami ditipu, ini pembohongan ini,” tuturnya.
Memang, wacana Maluku sebagai lumbung Ikan Nasional telah lama dijanjikan sejak tahun 2010.
Wacana itu kembali digembar-gemborkan kembali oleh Presiden Jokowi dan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan pada 2016.
Presiden Jokowi berjanji membangun Pelabuhan Ambon Baru atau Ambon New Port untuk mendukung LIN. Pembangunan Groundbreaking-nya dijanjikan mulai dilakukan pada November 2017.
Sayangnya, janji Jokowi hanya isapan jempol belaka. Pembangunan Ambon New Port batal.
Selain tidak ada anggaran, Menko Luhut Binsar Pandjaitan juga beralasan,
lokasi pembangunan Ambon New Port terdapat gunung api bawah laut dan ranjau bekas peninggalan perang dunia ke-2.
Ambon New Port diproyeksikan meningkatkan hasil tangkapan ikan menjadi 750 ribu ton per tahun.
Potensi terbesar adalah ikan pelagis termasuk di dalamnya ikan tuna, tongkol, cakalang, teri, dan kembung.
Secara rinci, Ambon New Pot akan berlokasi di samping Pelabuhan PT. ASDP Ferry Indonesia di Waai, Kabupaten Maluku Tengah. Luas pelabuhan terintegrasi itu dirancang mencapai 200 hektar dengan total nilai investasi yang ditelan senilai Rp 4,05 triliun. (*)







Komentar