JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) dijadwalkan berkunjung ke Ukraina dan Rusia. Di dua negara tersebut Jokowi akan bertemu Presiden Volodymyr Zelensky dan Presiden Vladimir Putin.
Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI) Hikmahanto Juwana menilai besar kemungkinan Jokowi bisa mengakhiri konflik senjata di Ukraina.
“Presiden Jokowi direncanakan berkunjung ke Kiev dan Moskow sebagai upaya menghadirkan gencatan senjata dan mengakhiri tragedi kemanusiaan sebagai akibat konflik bersenjata,” kata Hikmahanto dalam keterangannya, Sabtu (25/6).
“Probabilitas Jokowi menghadirkan gencatan senjata dan mengakhiri tragedi kemanusiaan sangat besar,” sambung Rektor Universitas Jenderal A. Yani itu.
Hikmahanto menilai setidaknya ada lima alasan atas kemungkinan tersebut.
Pertama, baik Rusia dan Ukraina dinilai telah lelah berperang. Rusia, kata dia, yang menargetkan operasi militer khusus berlangsung cepat tetapi hingga sekarang belum juga berakhir.
“Demikian pula Ukraina telah banyak menderita akibat serangan ini yang memunculkan tragedi kemanusiaan,” ucap Hikmahanto.
Kedua, legitimasi dari kedua pemimpin di masyarakat masing-masing semakin tergerus. Legitimasi yang kuat bagi kedua pemimpin dari masyarakat masing-masing di awal serangan mulai memudar mengingat perang dinilai tidak berpihak pada rakyat.
Ketiga, Rusia dan Ukraina saat ini dinilai tengah mencari jalan untuk mengakhiri perang, tetap secara bermartabat. Keduanya tidak ingin kehilangan muka.
“Bila Rusia menghentikan serangan secara sepihak ini akan berakibat pada hilangnya muka Presiden Putin dan Rusia,” ucap Hikmahanto.
“Demikian pula bila Presiden Zelensky menyerah maka Zelensky akan kehilangan muka di mata masyarakatnya,” sambung dia.
Keempat, hingga saat ini tidak ada negara yang berinisiatif untuk mengupayakan gencatan senjata. Turki dan Israel pernah mengupayakan tetapi gagal karena saat itu kedua negara masih bersemangat untuk berkonflik dengan menggunakan senjata.
Kelima, gencatan senjata bila terjadi harus dimulai dari Rusia. Pertanyaannya, kata Hikmahanto, apakah Rusia berkeinginan untuk menghentikan serangan? Dia menilai terdapat indikasi keinginan tersebut. Dia pun membeberkan alasannya.
“Ini karena Rusia bersedia menerima kunjungan Presiden Jokowi meski Rusia tahu Indonesia adalah ko-sponsor dari sebuah Resolusi Majelis Umum PBB yang disponsori oleh Amerika Serikat yang mengutuk serangan Rusia sebagai suatu agresi,” ucap Hikmahanto.
“Bila Rusia tidak memiliki keinginan untuk menghentikan perang tentu Rusia akan menolak kehadiran Presiden Jokowi yang menganggap Indonesia telah berpihak pada AS dan sekutunya,” pungkas dia.
Invasi Rusia ke Ukraina telah berlangsung sejak 24 Februari 2022. Peristiwa ini menyebabkan jutaan penduduk Ukraina mengungsi. Kerusakan dan jatuhnya korban jiwa tak terhindarkan.
Dampak lain dari perang dua negara ini adalah melonjaknya harga energi dan pangan. Sebab, Rusia dan Ukraina dikenal sebagai penghasil energi dan beberapa bahan pangan. (***)







Komentar