LIPUTAN.CO.ID, Jakarta – Anggota Komisi IV DPR RI, Johan Rosihan menyesalkan keputusan pemerintah yang menaikkan tarif tiket masuk ke Taman Nasional Komodo (TNK) menjadi Rp3,75 juta, terhitung sejak 1 Agustus 2022.
Menurutnya, kebijakan tersebut tidak tepat karena TNK dia nilai belum mandiri dalam hal kemampuan finansial Kawasan Konservasi.
“Jangan sampai alasan konservasi dijadikan tameng untuk penaikan tarif ini. Padahal, mungkin ada pihak lain yang mengambil keuntungan dari kebijakan tersebut,” kata Johan dalam rilisnya, Selasa (2/8/2022), merespon polemik kebijakan yang diprotes oleh para pegiat dan pelaku pariwisata.
Politikus PKS itu mendesak pemerintah meninjau ulang kenaikan harga tiket masuk Pulau Komodo.
Dari informasi yang diterimanya, kebijakan ini mengakibatkan mogok jasa pariwisata di Labuan Bajo serta berbagai protes warga. Johan menyayangkan para aparat keamanan yang bertugas menghadapi aksi demo dengan bersikap represif.
“Saya mendesak pemerintah memperbaiki strategi menghadapi berbagai permasalahan finansial dan kelestarian pengelolaan Taman Nasional Komodo. Paradigma yang harus dikedepankan adalah penerapan pariwisata berkelanjutan yang memadukan daerah konservasi sebagai destinasi wisata yang unggul dan berbasis pemberdayaan masyarakat,” ujar Johan.
Ia berharap agar pemerintah mendengar aspirasi dari berbagai organisasi pariwisata mengenai kebijakan tarif pariwisata ini. Baginya, kerja sama semua pihak wajib dilakukan. Jangan sampai kebijakan ini terkesan selalu merugikan masyarakat dan hanya menguntungkan pihak tertentu.
“Protes dari pelaku dan pegiat pariwisata ini harus menjadikan pemerintah lebih sigap untuk memperbaiki tata Kelola Kawasan, tata Kelola bisnis dan tata Kelola kelembagaan. Hal tersebut penting agar TN Komodo menjadi lestari dan menjadi kebanggaan kita semua sebagai ikon pariwisata global,” jelas Johan.
Johan berharap polemik kenaikan tarif pariwisata Komodo ini dijadikan bahan evaluasi pemerintah bahwa perlu penguatan kreatifitas peningkatan kegiatan yang mendatangkan revenue pada bisnis wisata dan bisnis konservasi dan selalu melakukan kolaborasi dengan masyarakat dan para pegiat pariwisata lainnya.
“Paradigma kolaborasi wisata dan konservasi ini sangat penting sehingga tidak memunculkan protes berlebihan agar semua stakeholders saling bersinergi demi majunya pariwisata dan konservasi Taman Nasional Komodo,” pungkasnya.







Komentar