Pakar Apresiasi Upaya Jokowi Jaga Pasokan Pangan Nasional

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan kembali pentingnya menjaga pasokan pangan nasional, mengingat sejumlah negara di dunia tengah dilanda krisis pangan dan kelaparan sehingga Indonesia harus tetap hati-hati dan waspada menghindari hal serupa.

Hal itu disampaikan Jokowi saat meninjau pengembangan dan penanaman kelapa genjah di Desa Sanggang, Sukoharjo, Jawa Tengah, Kamis (11/8).

Ketua Umum Pusat Kedaulatan Rakyat (PAKAR) Razikin Zuraid mendukung langkah Presiden Joko Widodo yang mengajak para petani dan masyarakat untuk mengambil peluang dan memanfaatkan lahan yang mereka kelola dengan menanam tanaman pangan pokok seperti padi, jagung, porang, hingga sorgum.

Razikin menilai upaya Presiden Jokowi dalam mengantisipasi krisis pangan di tanah air dinilai sangat tepat dan harus diapresiasi oleh masyarakat Indonesia. Sebab, Jokowi sangat memahami situasi global yang terjadi saat ini, dimana ancaman krisis pangan sudah berada di depan mata, serta politik dunia yang belum stabil akibat perang

“Ya, saya kira Jokowi sebagai Presiden G20, kemudian kemarin lakukan kunjungan ke beberapa negara tentu itu memahami betul bagaimana situasi global sekarang, ancaman krisis pangan. Dari situ, saya lihat tentu saja presiden dengan membaca peta politik dunia yang mengalami krisis pangan sekarang, itu harus kita apresiasi betul,” kata Razikin Juraid saat dihubungi, Jumat (12/8).

Dikatakan Razikin, krisis pangan sekarang menjadi isu dunia, maka harus ada kesadaran bersama untuk melakukan inovasi dalam pengembangan pangan. Olehnya itu, arahan Presiden Jokowi kepada pemerintah daerah untuk membudidayakan sorgum satu langkah yang harus disambut secara baik oleh pemerintah daerah.

“Hanya saja memang ada persoalan yang saya kira soal sorgum ini, karena budidaya yang tidak terlalu familiar di tengah-tengah petani, dia butuh waktu yang cukup lama kemudian perlu dihitung oleh pemerintah misalnya pasca panen, pra panen, pra tanam saat tanaman sampai pasca panen. Itu harus dihitung betul sehingga petani-petani di daerah-daerah ini tidak lagi mengalami kesulitan,” ujarnya.

“Misalnya yang menjadi persoalan selama ini kan kalau kita dorong budidaya satu varietas seperti sorgum ini yang menjadi kekhawatiran petani itu tentu di soal pasca panen, bagaimana misalnya setelah diproduksi kemudian, bagaimana nilai jualnya seperti apa, bagaimana pembelinya dan seterusnya. Jaminan harga di akhir itu yang saya kira perlu dibicarakan lebih matang oleh pemerintah,” sambungnya.

Menurut Razikin, jika merujuk pada data global krisis pangan, saat ini menjadi ancaman besar bagi negara-negara di dunia dan beberapa negara terancam mengalami kelaparan akibat krisis pangan tersebut. Bahkan, bank dunia menyebut per Juni 2023 ini, harga pangan dunia berada di angka 8 persen. Namun, krisis pangan ini belum menentu hingga perlu ada kebijakan-kebijakan baru terkait pengembangan pangan di Indonesia.

“Poin saya sangat mengapresiasi karena kita memang sekarang ini kalau kita lihat data global krisis pangan ini menjadi ancaman kelaparan dunia sekarang. Krisis ini kan masih fluktuatif, kita nggak tahu hari-hari ke depan tentu tetap memang perlu ada kebijakan-kebijakan yang lebih strategis,” ucapnya.

Razikin pun memastikan arahan Presiden Jokowi ini merupakan salah satu solusi dalam menghadapi krisis pangan, karena kalau melihat rencana besar Presiden Jokowi soal kemerdekaan pertanian atau pangan ini sudah dimulai sejak 2014 silam, dimana pada medio 2014-2015 hingga 2016 Presiden Jokowi menggenjot pertanian Indonesia dan meminimalisir impor pangan dari luar.

“Presiden Jokowi saya kira sudah konsen soal pertanian dan pangan di 2014-2015 2016. Waktu itu kalau nggak salah presiden mengeluarkan kebijakan untuk harus ada area tanah baru, percetakan sawah baru karena lahan produktif kita kan mengalami penyempitan, karena pembangunan terus-menerus. Akhirnya presiden membuka lahan baru Kalau nggak salah lebih kurang 7 juta hektar itu dengan sawah baru produktif, maka potensi impor kita bisa diminimalisir karena produksi dalam negeri bisa memenuhi kebutuhan kita,” jelasnya.

Diakui Razikin, arahan presiden untuk mengembangkan tanaman sorgum ini menjadi hadiah pemerintah bagi petani atau masyarakat Indonesia menjelang hari lahir bangsa Indonesia, yakni 17 Agustus 2022.

“Saya kira itu juga menjadi sambut Indonesia merdeka 17 Agustus, ini perintah presiden itu saya kira sangat bagus kita tidak sekedar hanya merayakan kemerdekaan ini sebagai sebuah euforia belakang. Tetapi kita juga harus melihat di aspek pangan misalnya kita harus berdaulat tadi, aspek pangan negara ini kan negara yang sangat subur,” paparnya.

Razikin pun memastikan tanaman sorgum ini sangat mudah dan bisa ditanam di tempat manapun, baik di tanah basah atau tanah kering sekalipun.

“Saya kira sorgum ini juga sangat mudah ditanam, dia juga memiliki daya tahan terhadap kekeringan, saya kira arahan presiden itu kita harus sambut baik. Tetapi poin saya juga adalah ini tidak sekedar di level birokrasi, harus ada langkah sosialisasi ke masyarakat terutama ke petani-petani untuk mengakrabkan kembali mereka itu dengan tanaman sorgum,” jelasnya juga.

“Harus ada jaminan di pra produksi, pra tanam disekitar waktu penanaman, perawatan penanaman, pasca tanam sampai pasca panen itu harus ada kebijakan yang memang menjamin petani merasa tidak was-was, ada kepastian lah bagi petani kira-kira begitu,” tutupnya. (***)

Komentar