Energy Watch Dukung Erick Thohir Gandeng Belanda Kembangkan PLTB Tanah Air

JAKARTA – Kunjungan kerja Menteri BUMN Erick Thohir ke Belanda pekan kemarin menjadi angin segar dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Hal itu terlihat dengan kerjasama PT Pertamina dengan mitra strategis di Belanda untuk pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB).

Menurut Erick Thohir, kerjasama pengembangan PLTB ini sebagai alternatif energi terbarukan di Indonesia. Saat ini Indonesia terus mempersiapkan transisi energi dari fosil ke energi terbarukan. Salah satunya melalui pembangkit listrik tenaga angin.

“Saya mengunjungi Pondera Wind Farm, salah satu partner @pertamina, dalam pengembangan energi tenaga angin untuk green hydrogen,” kata Erick Thohir seperti dikutip di akun IG @erickthohir, Senin, (5/9).

Menanggapi langkah strategis Menteri BUMN ini, Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan, kerjasama yang dilakukan PT Pertamina dengan perusahan Belanda sangat bagus. Kerjasama ini bisa meningkatkan target bauran yang ditargetkan pemerintah 23 persen di tahun 2025.

“Menurut saya kerjasama ini bagus sekali gitu kan bahwa dengan kita bisa bekerja sama maka diharapkan nanti ke depan kita bisa meningkatkan target bauran kita, apalagi kita punya target 23% pada 2025 yang akan datang target bauran energi,” kata Mamit saat dihubungi, Senin (5/9).

Selain target bauran energi, Indonesia juga punya target mengurangi efek rumah kaca pada 2030 sebesar 29 persen, maka rencana pengembangan PLTB di Indonesia sangat tepat dan juga Indonesia memiliki potensi angin yang lumayan cukup besar.

“Terus juga kita punya target 29% mengurangi efek rumah kaca pada 2030 sesuai dengan MBC kita serta kita punya target Zero Emission pada 2060. Saya kira sangat bagus apalagi kita punya potensi untuk angin ini punya potensi yang lumayan cukup besar lah tidak terlalu besar jika dibandingkan panas PLTS tetapi paling tidak memang potensinya cukup besar,” ucapnya.

Atas dasar itu, diharapkan dengan adanya kerjasama ini maka lebih terealisasi lagi ke depan programnya itu. Pastinya dengan adanya kerjasama ini diharapkan biayanya menjadi lebih murah, biaya untuk PLTB ini kan besar teknologinya dari luar.

“Yang pasti saya mengharapkan juga bahwa ini perusahaan Belanda tersebut menanam investasi di Indonesia dalam artian membuat produk-produknya di Indonesia, sehingga bisa memberikan multiplier effect bagi pengembangan EBT di Indonesia terus, juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat dan juga perekonomian Indonesia secara nasional,” jelasnya.

“Jadi jangan sampai kita hanya menjadi pembeli saja, tetapi bagaimana kita juga bisa menciptakan bahkan kita juga mengerek investasi sehingga Indonesia bukan hanya pasar, tetapi juga bisa dapat jadi produsen juga,” tambahnya.

Di Indonesia, lanjut Mamit sudah ada beberapa pengembangan PLTB dibeberapa daerah, seperti di Sulawesi Selatan dan juga di Kalimantan. Menariknya, daerah Kalimantan ke depan akan menjadi pusat ibu kota negara dan ini sangat tepat.

“Karena nanti IKN itu rencananya menggunakan EBT kan sumber listrik, saya kira ini bagus dan memang dimulai dari Kalimantan yang potensi dimiliki. Apapun potensi di sana kita bisa lakukan, misalnya seperti yang sekarang untuk PLT yang itu kan di Kalimantan Utara, terus juga di beberapa Kalimantan PLTA juga banyak untuk anginnya, mungkin bayu (angin) inilah PLTB-nya bisa dikembangkan, disesuaikan dengan potensi yang ada,” pungkasnya. (***)

Komentar