DWP Setjen DPD RI Bantu Sekolah Sosial Bingkai Jalanan Jakarta

LIPUTAN.CO.ID, Jakarta – Dharma Wanita Persatuan Sekretariat Jenderal DPD RI menyalurkan bantuan sosial kepada Sekolah Sosial Bingkai Jalanan, yang berlokasi di kawasan Senen, Jakarta Pusat.

Baksos sosial digelar dalam rangka HUT DWP Ke-23, sekaligus untuk memperingati Hari Ibu Ke-94, yang jatuh pada tanggal 22 Desember 2022.

Penasihat DWP Setjen DPD RI, Enny La Nyalla Mahmud Mattalitti mengungkapkan apresiasinya kepada orang-orang dan komunitas yang masih peduli dan memperhatikan pendidikan anak jalanan.

“Saya mengapresiasi berdirinya Sekolah Bingkai Jalanan ini, berawal dari harapan agar anak-anak untuk mendapatkan kesempatan yang sama dalam memperoleh pendidikan. Meski bantuannya kecil, DWP Setjen DPD RI berharap dapat meringankan beban dan menambah semangat anak-anak belajar,” kata Enny, di Sekolah Bingkai Jalanan, Senen, Jakarta Pusat (21/12/2022).

Ketua Umum DWP Setjen DPD RI, Zuliana Rahman Hadi menambahkan, bentuk bakti sosial kali ini berupa bantuan peralatan sekolah dan sembako. Diharapkan melalui bantuan ini dapat menarik pihak-pihak lain untuk ikut memberikan donasi dan bantuan pada pendidikan anak jalanan.

Pada kesempatan ini, Ketua DWP Setjen DPD RI juga mengajak anak-anak untuk membaca Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk meningkatkan rasa kebangsaan dan nasionalisme.

“Saya mengharapkan anak-anak tetap semangat belajar demi masa depan meski di tengah keterbatasan, dan semoga para orang tua anak-anak ini juga memberikan dukungan setidaknya dua kali dalam seminggu selama 2 jam pelajaran,” ujar Zuliana Rahman Hadi.

Sedangkas penggagas Sekolah Bingkai Jalanan, Hestiana Kiftia Sari mengungkapkan rasa syukurnya atas perhatian dari DWP Setjen DPD RI. Sekolah yang digagasnya ini bermula dari penelitian kuliahnya pada tahun 2012 tentang anak jalanan yang akhirnya mendirikan sekolah anak jalanan di trotoar pinggir jalan dan diberi nama “bingkai jalanan”.

Saat ini, anak didik Sekolah Bingkai Jalanan mencapai lebih dari 60 anak dengan usia beragam dari usia 7 tahun hingga 16 tahun dan berlatar belakang pengamen, pengemis jalanan serta yatim piatu.

“Semua berawal dari keinginan saya melihat anak-anak jalanan ini mendapatkan hak pendidikan yang sama paling tidak bisa membaca dan menulis. Saat ini kelas ada 4 kali dalam seminggu dan 2 jam pelajaran yang dibantu oleh 3 pengajar inti dan 2 orang mantan anak didik di sini,” ungkap Hestiana.

Komentar