PDIP Susun Caleg dengan Sistem Tertutup, Pengamat: Ingin Hattrick, Menang Pilpres dan Pileg

LIPUTAN.CO.ID, JakartaPengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, DR. Ujang Komarudin mengatakan dari berbagai diskusi dengan banyak pihak, terungkap PDI Perjuangan atau PDIP menjadi satu-satunya partai yang paling rapi dalam menyusun para calon anggota legislatifnya.

Susunan para Caleg PDIP itu menurut Ujang, memang disiapkan untuk menghadapi Pemilu legislatif dengan sistem proporsional tertutup.

Hal itu dikatakan Ujang ketika menjadi narasumber dalam diskusi Empat Pilar bertajuk “Sistem Pemilu dan Masa Depan Demokrasi Pancasila”, yang digelar oleh Koordinatoriat Wartawan Parlemen (KWP) bekerja sama dengan Biro Humas dan Sistem Informasi, Setjen MPR RI, di Media Center Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (22/2/2023).

“Partai yang paling rapi menyusun Calegnya adalah PDIP. Tapi semuanya disusun dalam sistem Pemilu proporsional tertutup,” kata Ujang.

Ujang menduga para Caleg partai berlambang banteng hitam dengan moncong putih itu disusun dengan format sistem Pemilu tertutup ditujukan untuk meraih kemenangan dalam Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden.

“PDIP ingin hattrick, Menang Pilpres dan menang Pileg, cara yang memungkin untuk itu, ya tertutup. Kalau terbuka, PDIP kan sudah jadi musuh bersama dalam kontek menentukan sistem Pemilu legislatif,” tegasnya.

Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) itu menjelaskan, pilihan terhadap sistem proporsional terbuka di Pemilu 2024 nanti merupakan konsensus dari sembilan Fraksi di DPR RI, sehingga melahirkan UU tentang Pemilu.

“Melalui sistem proporsional terbuka ini, demokrasi Indonesia sudah terbilang maju. Kini ditarik-tarik lagi ke belakang seperti era Orde Baru. Pertanyaan saya, kapan mau tinggal landasnya demokrasi di Indonesia ini? Sistem Pemilu proporsional terbuka saja yang sedang jalan saja masih digugat,” ujarnya.

Secara logika, kata Ujang, mestinya Partai Golkar yang sangat menginginkan sistem proporsional tertutup karena akan membawa bangsa ini ke sistem Orde Baru di bawah kekuasaan Presiden Soeharto.

“Faktanya, Partai Golkar juga menghindar dari gagasan sistem proporsional tertutup, karena di sistem proporsional terbuka hanya orang-orang terbaik yang muncul. Sebaliknya, kalau tertutup, maka tertutup peluang bagi orang-orang yang berjuang untuk demokrasi seperti aktivis,” pungkasnya.

Komentar