JAKARTA – Kehadiran Jenderal (purn) TNI Andika Prakasa di acara puncak Bulan Bung Karno di Stadion Utama GBK menguatkan isu duet Ganjar Pranowo dan Jenderal Andika di Pilpres 2024. Pasalnya, sebelum kehadiran Jenderal Andika di acara Bulan Bung Karno, mantan Panglima TNI itu sempat berziarah ke makam Bung Karno di Blitar, Jawa Timur.
Selain itu, nama Jenderal Andika juga santer dikaitkan dengan PDIP beberapa hari belakangan ini. Menanggapi isu tersebut, pengamat politik Pangi Syarwi Chaniago mengatakan, wacana pasangan Capres/Cawapres dari kalangan sipil dan militer sudah lama dibicarakan dan wacana tersebut sangat baik karena paket tersebut saling melengkapi.
“Sebenarnya dulu ada kombinasi sipil-militer, termasuk kombinasi sipil-ulama, kombinasi sipil kepala daerah dan kombinasi itu tetap masih cukup bagus karena kan paket yang saling melengkapi ya, kepala daerah dengan satunya lagi militer,” kata Pangi kepada wartawan, Sabtu (24/6).
Dikatakan Pangi, Jenderal Andika bukanlah perwakilan militer yang biasa tetapi sosok militer yang sudah mencapai puncak karir dalam dunia militer. Namun, keputusan dipasangkan Jenderal Andika sebagai Cawapresnya Ganjar berada di tangan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
“Militernya ini juga bukan kaleng-kaleng kan jenderal cuma kalau kita lihat disimulasi kan belum tentu kelihatan juga angkanya cukup potensial apakah memang Ganjar-Andika itu cukup menjanjikan? Tinggal kalau di PDIP itu nanti yang menentukan Capres/Cawapres itu ya suka-sukanya Bu Mega, kalau misalnya ibu meganya lebih senang ke Andika ya jadi, tapi kalau nggak seneng ya belum tentu,” ucapnya.
Dijelaskan Pangi, PDIP adalah satu-satunya partai politik yang bisa mengusung Capres/Cawapres sendiri tanpa koalisi, hingga mereka sangat bebas untuk menentukan sosok Cawapres untuk mendampingi Ganjar Pranowo di Pilpres 2024. Selain itu, lanjut Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting ini, waktu pendaftaran Capres-Cawapres masih lama hingga komunikasi politik untuk membangun koalisi masih lentur.
“PDIP kan golden tiket jadi dia tidak mau terlalu di dikte oleh partai politik dan karena koalisi kita masih lentur, kemungkinan apapun bisa terjadi tergantung kebutuhannya usernya apa, karena kebutuhan wakil Presiden ini kan macam-macam, yang pertama adalah kebutuhan kemenangan sebagai pendompleng atau bantalan kemenangan?,” jelasnya.
“Kalau hanya keinginan ya bisa, Ibu Mega tidak mau secara emosional, butuh sesuatu yang alat ukurnya ilmiah, tidak berdasarkan persepsi, asumsi pikiran-pikiran liar, kan kira-kira itu ada di kantongnya Bu Mega Ganjar-Andhika itu menang nggak? Ibu Mega itu orangnya ilmiah terukur,” tandasnya. (***)







Komentar