Soal Politik Uang, Politisi PAN: Tolak Uangnya, Jangan Pilih Orangnya!

LIPUTAN.CO.ID, Jakarta – Politisi Partai Amanat Nasional (PAN), Guspardi Gaus mengimbau masyarakat untuk menolak segala bentuk politik uang, baik dari partai politik, tim kampanye maupun calon anggota legislatif (Caleg) dalam kontestasi Pemilu 2024.

Komitmen partai politik, tim sukses maupun Caleg yang bersangkutan tidak melakukan politik uang menuritnya, memang sangat dibutuhkan.

“Sebab, sistem Pemilu legislatif dengan sistem proporsional terbuka yang diberlakukan pada Pemilu 2024 dikhawatirkan banyak pihak masih akan marak terjadinya praktik politik uang,” kata Guspardi, Senin (19/6/2023).

Perihal politik uang ini kata Guspardi, juga kembali ditegaskan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) dalam pertimbangannya saat menolak uji materi yang diajukan pemohon terhadap sistem proporsional terbuka beberapa hari yang lalu.

“Intinya, bagaimana semua pihak dapat mencegah dan menghindari politik uang dalam proses Pemilu. Jadikanlah politik uang itu menjadi musuh bersama baik oleh Parpol, tim sukses dan Caleg maupun masyarakat,” tegasnya.

Anggota Komisi II DPR RI ini juga mengingatkan agar Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) juga lebih intens memlototi dan menyaringkan telinganya terhadap dugaan politik uang dalam pelaksanaan Pemilu 2024 nanti.

Potensi kecurangan Pemilu berupa politik uang ini bisa dikontribusikan oleh perilaku kompetisi yang pragmatis, di tengah suasana kompetisi yang sangat kompetitif dalam Pileg. “Jika politik uang dibiarkan akan berakibat cacatnya pesta demokrasi lima tahunan,” tegasnya.

Selain itu, Guspardi juga mengkritisi istilah atau jargon ‘ambil uangnya, jangan pilih orang’, juga harus di hilangkan dari stigma yang melekat di masyarakat selama ini. “Sebab bisa saja Caleg yang terpilih karena politik uang mengatakan bahwa hubungannya dengan konstituen sudah selesai, sudah lunas. Karena apa? Dia sudah membayar sejumlah uang,” ujarnya.

Lebih lanjut, Guspardi menyebut dirinya selalu menyuarakan agar partai politik, tim kampanye atau tim sukses dan para Caleg tidak melakukan politik uang. Sebab, hal itu tidak mendidik para pemilih. Ia khawatir politisi yang duduk di parlemen dipilih bukan karena kapasitas, kapabilitas, dan integritas.

Oleh karenanya, diharapkan masyarakat sebagai pemilik suara dalam Pemilu nanti, tidak menyoblos Caleg yang melakukan politik uang. “Tolak uangnya dan jangan pilih orangnya”, himbaunya.

Ditegaskannya, praktik politik uang ini menjadi corong utama pemicu munculnya pemimpin yang korup dan tidak pro terhadap rakyat serta merugikan masyarakat dalam jangka panjang.

“Kita berharap yang terpilih itu adalah orang bebas dari politik uang dan mampu melaksanakan tugas dan fungsi sesuai harapan dan keinginan masyarakat yang memilihhya,” imbuh Guspardi.

Komentar