Masalah Transportasi dan Parkir Bermasalah, Pengamat Dukung Pemerintah Renovasi JIS

JAKARTA – Pengamat transportasi Azas Tigor Nainggolan mengatakan, penolakan Jakarta Internasional Stadium (JIS) oleh FIFA sebagai salah satu stadion Piala Dunia U-17 karena belum memenuhi standar.

Beberapa poin yang dikatakan belum memenuhi standar adalah pintu stadion yang aktif hanya satu, rumput lapangan tidak memenuhi standar FIFA, parkiran yang tidak mendukung, akses pemain hingga transportasi umum yang juga tidak mendukung.

“Beberapa kali event, terutama pernah suatu event konser di sana kan terjadi problem tuh, orang mau masuk juga masalah aksesnya kan, terus juga mau pulang akhirnya ngantri panjang sampai pagi, sampai Subuh karena antri juga, nah ini menunjukkan bahwa aksesnya memang harus ada perbaikan,” kata Nainggolan kepada wartawan, Rabu (5/7).

Dikatakan Nainggolan, masalah lain yang perlu diperbaiki adalah akses pemain yang tidak memenuhi standar, dimana bus pemain tidak bisa masuk sampai ke depan pintu lobi sebagaimana yang ada di stadion-stadion lain.

“Misalnya bus-bus untuk pemain yang mengangkut pemain tidak bisa masuk karena plafonnya terlalu rendah, nah ini harus diperbaiki,” ujarnya.

Pengamat yang dikenal sangat kritis terhadap sistem transportasi ibukota Jakarta ini melanjutkan, lahan parkir JIS sangat kecil dan ini menjadi masalah hingga tidak mendapat rekomendasi FIFA. Untuk itu perlu ada perbaikan pada lahan parkir stadion yang menekan dana sebesar Rp 4,5 triliun ini.

“Tempat fasilitas parkirnya juga kan problem. Parkirnya kan juga bisa sampai tumpah ke mana-mana tuh tempo hari, jadi artinya begini kalau saya menangkap persoalan akses itu termasuk juga dengan kenyamanan dan keselamatan itu yang saya tangkap kenapa FIFA tidak memberi rekomendasi, artinya belum dapat rekomendasi untuk dipakai sebagai tempat pertandingan tingkat FIFA. Karena tadi keselamatan, aspek keamanan, kenyamanan itu penting,” ungkapnya.

Dijelaskan Nainggolan, pemerintah sebelumnya (Anies Baswedan) harusnya sudah memetakan faktor-faktor pendukung sebuah stadion agar ke depan tidak menjadi masalah, karena stadion yang diklaim memenuhi standar nasional harus ada rujukan FIFA sebagai federasi sepak bola tertinggi di dunia.

“Waktu itu dibangun seharusnya juga gubernur saat itu sudah tahu bahwa ini bangunan stadion internasional atau katanya Jakarta internasional stadion (JIS), berarti standarnya harus internasional, jelas sudah ada rujukannya ke FIFA. Sistem pengamanannya, sistem parkirnya, pembagian ruangnya itu beda dengan membangun bangunan yang lain,” jelasnya.

“Jadi harusnya tahu betul dan melibatkan betul stakeholder yang ada dalam FIFA itu sendiri. Saya sih melihat kayaknya waktu itu dibangun tanpa konsultasi sepertinya, mungkin saya tidak tahu kenapa bisa jadi tidak dapat rekomendasi dari FIFA begitu, padahal stadionnya memakan biaya cukup besar Rp 4,5 triliun,” tambahnya.

Lebih jauh Nainggolan, permasalahan yang terjadi di JIS bukan hanya soal transportasi, akses pemain dan parkiran tetapi masalah lain juga mendapat catatan khusus dari FIFA untuk diperbaiki, yakni rumput lapangan yang tidak memenuhi standar FIFA. Oleh sebab itu, Nainggolan juga mengusulkan agar dilakukan audit terhadap penggunaan anggaran Rp 4,5 triliun dalam pembangunan JIS.

“Tidak cuma masalah transportasi, saya baca rumput segala masa jelek harus lagi direhab, ini kan berarti kacaukan, masa kita nggak pernah bikin stadion, banyak stadion bagus-bagus kenapa tidak lihat di situ kan. Jadi saya pikir ini harusnya di audit, kalau saya mendukung itu harus diperbaiki supaya tidak mubazir dan itu benar-benar menjadi Jakarta international stadium, perbaiki yang harus diperbaiki,” paparnya.

“Karena pemerintah untuk memperbaiki supaya JIS itu memenuhi syarat sertifikasi FIFA dan saya mendukung apa yang dibilang pak gubernur, perbaiki apa yang perlu diperbaiki, salah satunya sarana transportasinya, arus masuk, arus keluar harus lancar, sarana parkirnya juga pokoknya,” pungkasnya. (***)

Komentar