LIPUTAN.CO.ID, Jakarta – Wakil Ketua DPD RI Nono Sampono mengatakan negara selalu berproses untuk beradaptasi sesuai dengan kemajuan zaman. Dalam beradaptasi itu menurut Nono, ada juga negara yang tidak mampu dan akhirnya sebuah negara hilang.
“Kerajaan Sriwijaya sebagai sebuah state hilang setelah eksis selama 800 tahun. Demkian juga Majapahit, setelah 300 tahun hilang karena tidak mampu beradaptasi,” kata Nono, dalam Dialog Kenegaraan bertajuk “Kembali Menjalankan dan Menerapkan Sistem Bernegara Pancasila Sesuai Rumusan para Pendiri Bangsa”, di Media Center DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (3/11/2023).
Dalam konteks kekinian lanjut Nono, ada negara raksasa yang juga bubar karena reformasi, yaitu Uni Soviet ketika dipimpin oleh Mikhail Gorbachev yang mengusung tema reformasi “Glasnost dan Perestroika” sehingga pada akhirnya Uni Soviet pecah menjadi 15 negara.
“Reformasi Uni Soviet bermuara kepada bubarnya Uni Soviet. Bukan karena adanya serangan negara asing. Untung ada Vladimir Putin yang menyelamatkan Rusia dan mengembalikan Rusia sebagai sebuah negara yang religius dan kini sangat diperhitungkan dunia,” ungkap Nono.
Senator dari daerah pemilihan Provinsi Maluku itu mempertanyakan, apakah semua masalah yang kini muncul di Indonesia sebagai akibat dari amendemen UUD 45.
“Sebelum amendemen, tidak ada dinasti politik dan kontestasi politik yang mengadalkan uang seperti sekarang. DPD RI tidak mau ribut dengan kontestasi dan dinasti karena lebih melihat keberlangsungan berbangsa dan bernegara ke depan sesuai dengan amanah UUD 45 yang disusun oleh pendiri bangsa,” ujarnya.
Dikatakannya, demokrasi berjalan baik bila pendidikan baik dan ekonomi baik. “Bagaimana dengan Indonesia? Di Papua contohnya, masih ada budaya Noken. Kita ini bangsa komunal, bukan individualistik, dan itu diajarkan oleh Pancasila,” imbuhnya.







Komentar