Istana Nilai Aspirasi Guru Besar Orkestrasi Elektoral, Fikri Faqih: Tak Masuk Akal

LIPUTAN.CO.ID, Jakarta – Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih mengingatkan, bahwa masyarakat Indonesia, termasuk civitas akademika dan para Guru Besar di kampus, berhak mengekspresikan aspirasinya.

Hak tersebut, menurut politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, dijamin oleh Negara melalui perundang-undangan.

Hal tersebut menjadi perhatian Fikri, lantaran tidak ingin suara civitas akademika dibungkam karena menyampaikan maklumat jelang Pemilu 2024.

Ditegaskannya, negara wajib memberikan ruang agar publik termasuk civitas akademika bisa mengungkapkan apa pun yang ingin mereka suarakan.

“Mereka (mengungkapkan rasa) prihatin. Ini harus diperhatikan. Jangan direspon sesaat, supaya tatanan berdemokrasi bisa memberikan porsi kepada elemen masyarakat agar terlibat memberikan masukan tanpa ada tekanan intimidasi dan diskriminasi,” kata Fikri, di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (6/2/2024).

Setiap pendapat dan masukan yang disampaikan oleh civitas akademika, lanjutnya, dibuat berdasarkan pada pertimbangan yang matang. Jika aspirasi mereka dinilai sebagai sebuah orkestrasi elektoral oleh oknum tertentu, menurutnya, tidak masuk akal.

“Apakah ini karena alasan karena dekat (waktu) Pemilu? Sesungguhnya (aspirasi mereka) lebih dari itu. Saya pikir tidak mungkin para Guru Besar berpikir pendek. Reaksi mereka ini berdasarkan nilai filosofis. Mereka bereaksi karena prinsip negara kita mulai terusik,” ujarnya.

Oleh karena itu, Fikri berharap segenap stakeholder termasuk pemerintah bersikap asertif dalam menanggapi peristiwa ini. Selain melindungi demokrasi, dirinya ingin negara bisa menjaga komitmen untuk memberikan rasa aman kepada rakyat Indonesia.

Diketahui, lebih dari 25 perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, menyampaikan petisi kepada Pemerintahan Presiden Joko Widodo terkait penyelenggaraan Pemilu 2024 terhitung sejak Rabu (31/1/2024).

Civitas akademika tersebut terdiri dari Guru Besar dan dosen itu juga menyatakan bahwa demokrasi di Indonesia saat ini mengalami kemunduran.

Sayangnya, Istana menegaskan kritik sejumlah kampus terhadap Presiden Joko Widodo atau Jokowi, ditanggapi Koordinator Staf Khusus Presiden Ari Dwipayana sebagai upaya yang sengaja mengorkestrasi narasi politik tertentu untuk kepentingan elektoral.

Komentar