Dukung Palestina, Sukamta: Jangan Kita Buka Hubungan Diplomatik dengan Israel

LIPUTAN.CO.ID, Jakarta – Anggota Komisi I DPR RI, dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera atat PKS, DR. Sukamta menyatakan kondisi Palestina saat ini berada di tahap yang sangat krusial.

Pasalnya, di dalam negeri Israel ada tiga sikap berbeda. Pertama, menurut Sukamta, adalah orang-orang yang mau menerima koeksisten hidup bersama antara Israel sebagai warga dengan Palestina sebagai warga.

Kedua, lanjut Wakil Ketua BKSAP DPR RI itu, ada kelompok yang mau koeksistensi sebagai negara Israel sendiri dan Palestina negeri sendiri di dua negara.

Ketiga, adalah yang ekstrim yang tidak mau menerima dua negara. Menurut mereka, kata Sukamta, Israel hanya bisa diisi oleh satu negara yaitu negara Israel, di tanah yang dulu namanya Palestina.

“Kelompok ini sekarang yang berkuasa, pemerintahannya, partai-partainya, maupun rakyatnya, sedang berada di sayap kanan paling kanan, sangat ekstrem,” kata Sukamta, di acara Dialektika Demokrasi, bertajuk “Aksi Demo Bela Palestina Menyebar Ke Seluruh Dunia! Peran Penting Indonesia Dinanti”, di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (14/6/2024).

Kelompok sayap kanan paling kanan ini, kata Sukamta, mengultimatum Palestina dengan perang sampai Palestina habis atau Palestina kalau mau tinggal di negara ini boleh, tapi dilarang punya pemerintahan sendiri, tidak boleh punya hak pilih memilih pemerintah pusat, paling boleh memerintah sampai tingkat daerah.

Berikutnya, ada lagi kelompok di Israel yang menginginkan seluruh warga Palestina pergi dari Palestina dan mereka mau membiayai kalau ada negara yang mau menampung.

Pada era Simon Peres berkuasa, Israel mau koeksisten hidup dua negara, solusi dua negara yang dimotori oleh banyak negara dunia internasional termasuk Indonesia ingin ada solusi dua negara.

“Nah dengan peristiwa Gaza yang sekarang ini mau tidak mau kita punya tafsir bahwa Israel sedang mengusahakan agar Gaza bersih dari penduduk Palestina. Dulu, awalnya saya menduga Israel serang Gaza hanya untuk membebaskan sandera dan melumpuhkan Hamas, ternyata bisa ketika masih ada warga negara Palestina di situ,” ujar Sukamta.

Karena itu, Israel melakukan upaya pembersihan seluruh sarana kehidupan, infrastruktur, jalan-jalan, pemerintahan, sejarah yang ada di Gaza semua dihancurkan. Bahkan, menurut politikus PKS itu, fasilitas untuk menunjang kehidupan dihancurkan, rumah-rumah sakit, sekolah, dihancurkan.

“Saya makin yakin bahwa yang Israel ingin lakukan itu genosida. Ketika bantuan untuk pengungsi yang dipertunjukkan itu bantuan mie instan dari Indonesia dirampas, dirampok, diinjak-injak dan tidak bisa dikonsumsi lagi. Nah ini berarti sudah genosida karena orang dibuat lapar, yang sakit enggak bisa diobati tempat ini enggak bisa dihuni lagi,” ujarnya.

Saat ini tenda-tendanya hanya berisi wanita, anak-anak itu dibom dan yang mati ratusan. “Tafsirnya cuma satu, Israel memang ingin melenyapkan seluruh penduduk Palestina di bumi Gaza, supaya apa, supaya kalau tidak ada penduduk lagi pasti pejuang-pejuang kemerdekaan itu tidak bisa eksis,” ungkapnya.

Dikatakan Sukamta, tampaknya logika yang bisa membuat Israel tunduk adalah logika kekuatan militer. Sayangnya apa yang dilakukan Israel hari ini direstui oleh negara-negara besar pendukungnya terutama negara  barat yang juga telah membunuh jutaan orang Aborigin ketika datang ke Australia, kemudian mereka membangun infrastruktur, membangun negara dan membanggakan kemakmurannya di bawah penderitaan penduduk Aborigin.

“Negara-negara besar ini menunjukkan memberi support secara membabi buta kepada Israel. Mereka ingin katakan Israel lakukan apa pun yang kalian mau, saya jagain, yang penting jangan ada eskalasi ke wilayah lain. Lakukan genosida lakukan pembunuhan, tapi cukup di Gaza saja. Kalau terjadi eskalasi aku akan setop. Itu yang kita baca dari apa yang dilakukan,” kata Sukamta.

Dijelaskannya, hari ini para politisi di negara pendukung ini tidak akan mendengarkan jeritan hati kemanusiaan yang terjadi. Mereka hanya mendengarkan ketika konstituensi mereka terancam, ketika calon presidennya terancam tidak terpilih, ketika anggota-anggota senat dan anggota DPR terancam tidak terpilih, baru mereka akan berpikir bagaimana memperbaiki komunikasinya, bukan sikap politik. Mereka sudah mempraktekkan membunuh warga-warga asli, menduduki, merebut tanahnya dan kemudian membangun atas nama dirinya sendiri.

“Nah, Indonesia bagaimana? Indonesia kalau kita serius ingin membantu memerdekakan satu-satunya bangsa yang masih terjajah sesuai amanah konstitusi di Pembukaan UUD 1945, kita harus kreatif dan pintar untuk memaksa semua pihak mendengarkan aspirasi, untuk realisasi kemerdekaan bangsa Palestina. Ini memang butuh perjuangan yang panjang,” ujarnya.

Untuk sampai Palestina merdeka itu memang jalannya terlalu panjang. Namun menurut Sukamta, Indonesia perlu action agar kekerasan di Gaza segera disetop. Kekuatan apa yang bisa menyetop, pasti bukan kekuatan militer karena Indonesia pasti tidak mau ikut campur secara militer dan tidak juga mau beradu secara militer karena jaraknya terlalu jauh dan juga kekuatan militer Indonesia kalah dengan negara-negara besar lain.

“Yang mungkin bisa dilakukan jangan kita buka hubungan diplomatik dengan Israel, hari ini jangan ngomong diplomasi deh. Sekali Indonesia buka hubungan diplomatik satu-satunya kartu truf yang kita punya hilang kita berikan kita nggak punya kartu truf lagi,” saran Sukamta.

Dikatakannya, kalau ada orang mau mengkompromikan hubungan diplomasi dengan Israel, itu sama dengan Indonesia menyerahkan seluruh kartu yang bisa dimainkan untuk mendukung kemerdekaan bangsa Palestina.

Selain itu, Indonesia punya banyak hal yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain yang menjadi kebutuhan mereka. Indonesia punya pasar besar, punya sumber daya alam yang banyak dan posisi Indonesia secara geografis dibutuhkan oleh banyak negara besar. “Semua kartu truf ini belum digunakan untuk menekan apa yang dilakukan Israel dan pendukungnya,” ujar Sukamta.

Terakhir, Sukamta berharap pemimpin-pemimpin nasional menggunakan kartu truf ini untuk kepentingan besar membela kemerdekaan bangsa Palestina.

Komentar