LIPUTAN.CO.ID, Jakarta – Pengamat Ekonomi Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya, Rosdiana Sijabat ikut menanggapi target yang dipatok Presiden Indonesia terpilih, Prabowo Subianto terkait pertumbuhan ekonomi yang akan diupayakan mencapai 8 persen di masa pemerintahannya.
Menurut Rosdiana, kendati itu cukup sulit terjadi dalam jangka waktu satu hingga dua tahun menjabat, namun apa yang ditargetkan oleh Prabowo harus mendapat dukungan semua pihak.
“Saya melihat 8 persen itu akan sulit kalau misalkan dicapai dalam 1 2 tahun pertama pemerintahan Prabowo, tapi harus optimis,” kata Rosdiana Sijabat, Kamis (25/07/2024)
Rosdiana berpendapat, itu sulit dicapai di masa satu dua tahun menjabat karena secara politik, Prabowo perlu melakukan konsolidasi kebijakan yang kuat antar kementerian kemudian dukungan pemerintahan daerah.
Dengan konsolidasi itu, akan menggangu fokus Prabowo untuk mencapai target 8 persen di 1 sampai 2 tahun pertama.
Di sisi lain, ada banyak tantangan kebijakan fiskal maupun tantangan kebijakan moneter yang dihadapi Prabowo saat ini, misalkan dari sisi kebijakan fiskal tentu akan ada konsen dengan defisit anggaran. Kemudian ada belanja publik yang relatif besar ketika Prabowo akan menjanjikan makan bergizi gratis untuk murid-murid sekolah.
“Tentu ini ada kalkulasi pengeluaran atau belanja publik yang cukup besar. Jika pemerintahan Prabowo tidak bisa mengoptimalkan rasio pajak rasio pencapaian target pajak maka yang dilakukan adalah penghematan untuk menahan supaya defisit anggaran tidak terlalu melebar,” jelasnya
Namun, semua itu bisa saja terjadi tapi tidak dalam jangka waktu satu dua tahun kedepan. Lihat saja, ketika Jokowi pertama kali menjabat Presiden, ia (Jokowi) menargetkan pertumbuhan ekonomi di angka tujuh persen.
Tetapi di tengah perjalanan dua periode pemerintahannya, ada banyak hal yang menjadi tantangan termasuk tantangan global pandemi covid-19 dan berbagai kondisi geopolitik maupun secara internasional.
“Namun bisa kita lihat diantara berbagai tantangan itu kita bisa meraih pertumbuhan sekitar 5 persen. Nah, kalau pak Prabowo menargetkan delapan persen, kita optimis saja,” ucapnya
Sebab, kalau tidak ada tantangan global pandemi covid kemudian pandemi covid itu membuat kondisi perekonomian global yang melemah diikuti dengan tingkat suku bunga dan inflasi yang tinggi karena ada berbagai peristiwa geopolitik, maka capaian itu bisa diatas lima persen.
“Jadi kalau Pak Prabowo mengatakan dia mau mencapai delapan persen, itu bisa saja dicapai karena sebenarnya pondasinya sudah baik, yang dilakukan oleh Pak Jokowi selama dua periode dan pemerintahannya,” sebutnya
Tapi kembali lagi ke jangka waktu. Pasalnya, secara moneter Bank Indonesia pasti akan sangat hati-hati untuk melakukan penurunan tingkat suku bunga karena yang terlihat secara global saat ini, negara-negara lain juga masih menahan suku bunga mereka.
Jadi antara harmonisasi kebijakan fiskal dan kebijakan moneter konsolidasi politik 1 tahun sampai 2 tahun pertama itu akan menjadi sesuatu yang diutamakan oleh Prabowo sehingga kartu pertumbuhan 8% tentu itu tidak mudah.
“Tetapi kembali lagi saya mengatakan bukan tidak mungkin kalau misalkan tidak ada kondisi yang force major yang terjadi, tentu seharusnya trend kita ke arah delapan persen,” tandasnya
Lantas apa yang harus dilakukan Presiden Prabowo? Rosdiana menyatakan, mau tidak mau ada tiga hal yang perlu ditekankan oleh pemerintahan Prabowo. Artinya, siapapun nanti menteri keuangannya, menteri perekonomiannya, menteri perindustrian dan ilmu ada tiga hal yang sangat penting yang harus benar-benar dijaga oleh pemerintahan Prabowo.
Yang pertama adalah bagaimana sektor manufaktur itu bisa meningkat kontribusinya terhadap PDB karena karakter dari perekonomian Indonesia sekarang itu sudah ke bagaimana menaikkan kontribusi sektor manufaktur.
“Nah kalau kita lihat mulai katakanlah periodenya Pak Jokowi sampai 2 tahun lalu kita lihat sebenarnya rata-rata kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB kita itu hampir 20% ini sebenarnya sebuah angka yang baik tolong kita bandingkan rata-rata kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB di negara-negara dunia itu kalau negara maju itu eocd misalkan itu sekitar 13 persen,” terangnya
Kemudian secara rata-rata, sebagian besar sektor manufaktur negara-negara di dunia itu sekitar 16% terhadap PDB nya. Sementara Indonesia mampu mengkontribusikan sektor manufaktur terhadap PDB hampir 20 persen.
“Artinya apa ada peluang besar apabila pemerintah bisa meniru strategi yang dilakukan oleh pemerintah Tiongkok yang menurut saya mereka itu cukup berhasil dalam membangun struktur manufaktur mereka tetapi dalam jangka waktu yang tidak singkat,” ungkapnya
Kemudian, lanjutnya, harus berfokus kepada friendli policy kebijakan yang ramah terhadap berbagai perusahaan teknologi. Karena mau tidak mau, sudah terlihat bahwa ekonomi digital bisnis secara digital itu akan menjadi sangat berkembang di masa yang akan datang.
Jadi kebijakan yang bersifat ramah baik secara fiskal maupun kebijakan moneter terhadap berbagai perusahaan teknologi sehingga perusahaan teknologi ini akan berkembang baik di Indonesia ini menjadi driver pertumbuhan ekonomi untuk mencapai 8 persen.
“Itu yang kira-kira mungkin sangat penting dilakukan oleh presiden Prabowo menekankan pentingnya sektor manufaktur menekankan pentingnya kebijakan yang ramah terhadap perusahaan teknologi baik yang tumbuh di Indonesia ataupun yang di bawah oleh investor asing ke Indonesia,” katanya
Selain itu, penting untuk mempertajam dan memperkuat hirilisasi yang sudah digagas oleh Presiden Jokowi. Sebab itu mampu meningkatkan kontribusi dari sektor-sektor yang dihilirisasi oleh Jokowi terhadap perekonomian Indonesia. Tapi ada hal lain yang mungkin penting secara politik bahwa Prabowo tentang utamanya adalah bagaimana menciptakan efisiensi pemerintahan yang baik.
Terpisah, anggota DPR RI, Zulfikar Arse Sadikin mengatakan, target pertumbuhan 8 persen yang di dengungkan oleh Prabowo itu baik. Tetapi melihat kondisi perekonomian nasional dan global, kondisi geopolitik di beberapa kawasan, serta adanya pergeseran magnet perekonomian dunia, tentu saja target tersebut masih terlalu tinggi untuk dicapai.
Sebagai perbandingan untuk mencapai pertumbuhan tujub persen saja, menurut beberapa ahli ekonomi kita membutuhkan investasi mencapai 2000 triliun.
“Dan uang sebesar itu saat ini, sangat sulit kita dapatkan. Ketimbang mengejar angka pertumbuhan yg terlampau tinggi dan tidak realistis,” kata Zulfikar
Politisi Golkar itu mengusulkan, lebih baik pemerintahan kedepan itu lebih memperbaiki kualitas pertumbuhan yang ada, yang menjadi masalah di depan mata.
Sebab, sekarang satu persen pertumbuhan hanya menyerap 100-110 ribu tenaga kerja. Sedangkan di masa Orde baru bisa mencapai 400-500 ribu tenaga kerja.
Ini saja tentu bukan hal yang mudah digapai oleh pemerintahan ke depan. Karena di tengah bonus demografi yang dialami. Maka akan semakin besar angkatan kerja yg menjadi pengangguran bila kualitas pertumbuhan kita seperti ini terus.
“Bayangkan saja, kita masih kesulitan untuk menarik investor untuk membangun IKN yg jumlahnya jauh lebih kecil dari angka 2000 triliun tersebut,” jelasnya
Utnuk itu, pemerintahan kedepan harus melakukan lompatan dan akselerasi yang luar biasa untuk bisa mencapai pertumbuhan 8 persen itu.
Dia mengaku, yang harua dilakukan yaitu seperti hilirisasi tidak hanya terfokus kepada nikel saja yang jumlahnya terbatas. Namun juga untuk SDA lainnya. Kemudian ekonomi kelautan yang masih dipandang sebelah mata dan belum di manfaatkan optimal.
Kemudian perkebunan buah tropis yang bisa menjadi komoditi andalan. Rempah-rempah dan hutan tropis sebagai bahan baku obat yg dibutuhkan dunia.
“Juga industri pariwisata yang ikon-ikon nya bisa menjadi tujuan wisata International bila di pemasaran dan pengelolaannya profesional serta jangan lupa tidak ada negara maju di dunia ini tanpa memiliki industri manufaktur yang kuat, dan kita belum punya itu,” tukasnya. (***)







Komentar